Lihat ke Halaman Asli

Ashwin Pulungan

TERVERIFIKASI

Wiraswasta

Pemerintah Gagal Menyediakan Protein Hewani dan Nabati Untuk Rakyatnya

Diperbarui: 25 Juni 2015   02:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

13432736251423556684

Oleh : Ashwin Pulungan

Belum selesai persoalan protein hewani dari kenaikan harga ayam dikonsumen yang sangat mahal, begitu juga harga daging sapi yang meroket, kini muncul pula persoalan baru protein nabati kacang kedelai di konsumen pengrajin produsen Tahu-Tempe mengalami kenaikan yang sangat tinggi dari harga semula pada kisaran Rp. 6.800,-/Kg sekarang menjadi Rp.7.500,- s/d Rp/8.000,-/Kg. Kenaikan ini dikatakan oleh Menko-Ekuin Hatta Rajasa adalah sebagai dampak iklim yang buruk pada negara produsen Kedelai (AS) sehingga persediaan kedelai dunia menjadi berkurang.  Hal ini akan sangat bedampak terhadap negara-negara importir kedelai seperti Indonesia sehingga sangat mempengaruhi mekanisasi pasar kedelai dalam negeri. Alangkah bahayanya Indonesia jika 70% kebutuhan kedelai dalam negeri hanya dipasok dari Amerika Serikat. Apakah Pemerintah tidak memiliki perencanaan matang serta berjangka panjang tentang kemampuan Indonesia untuk mampu melakukan pengadaan sendiri kedelainya ?

Kenaikan harga kedelai ini, memicu marahnya para pengrajin pengusaha tahu-tempe diseluruh Indonesia, melalui asosiasi mereka melakukan mogok produksi tahu-tempe sampai dua hari dimulai sejak tanggal 25-26 Juli 2012. Alasan para pengrajin tahu-tempe terhadap kenaikan harga kedelai adalah bertambahnya harga pokok pembuatan tahu dan tempe menjadi tinggi serta akan mengalami kesulitan penjualannya bila harga produksi tahu-tempe dinaikkan didalam kondisi daya beli masyarakat yang sudah sangat lemah.

[caption id="attachment_196358" align="aligncenter" width="617" caption="Sumber berita & gambar : wikipedia.com, vivanews.com, koleksi kedelaijepang.com, kacangkedelai.com, gudanginformasi.com"][/caption]

Lemahnya Ketahan Pangan Indonesia

Kita semua mengetahui bahwa kacang kedelai merupakan komoditi yang sangat penting bagi rakyat Indonesia untuk membuat makanan protein nabati paling disukai konsumen menjadi produk makanan tahu dan tempe. Makanan tahu dan tempe sudah menjadi alternatif pengganti protein hewani yang paling disukai, terjangkau oleh daya beli masyarakat Indonesia selama ini dibandingkan dengan protein dari daging sapi dan daging ayam, telur serta Ikan. Oleh karena itu kacang kedelai sudah merupakan bahan komoditi penting bagi masyarakat Indonesia disamping komoditi bijian karbohidrat beras.

Kebutuhan Nasional akan kacang kedelai mencapai 2,6 Juta Ton/Tahun, sedangkan kemampuan produksi kedelai lokal hanya 779.740 Ton biji kering/Tahun jumlah itupun semakin menurun pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini terjadi karena tidak menariknya hasil usaha dari tanaman kedelai bagi masyarakat petani disamping itu banyaknya lahan pertanian yang menjadi lahan untuk perumahan penduduk. Disamping itu, yang terpenting adalah tidak adanya perhatian dari Pemerintah untuk memberdayakan tanaman kedelai dengan penelitian bibit unggul minimal setara kualifikasi kedelai impor serta manajemen pertanian dan perbaikan kesuburan tanah. Para ahli dan para Doktor yang ada di lembaga penelitian tanaman pangan mengapa tidak dimanfaatkan maksimal oleh Pemerintah untuk memajukan produktifitas kedelai ? Lalu apa kerjanya komunitas pegawai terkait di Kementerian Pertanian RI ?  Lalu apa kerjanya sang Menteri Pertanian di Republik Indonesia ini untuk rakyatnya ?

Betapa lemahnya ketahanan pangan Indonesia dari komoditas kedelai dimana sejumlah 70% dari kebutuhan Nasional kacang kedelai adalah di-IMPOR dan diserahkan sepenuhnya kepada mekanisasi pasar. Kalau demikian, sebenarnya Indonesia tidak memerlukan Kementerian Pertanian atau Kementerian ini dibubarkan saja. Betapa besarnya kerugian bangsa dan negara dari sisi devisa serta peluang usaha bagi rakyat. Bisa dibayangkan betapa rentannya bangsa Indonesia jika 70% kedelai yang di-impor dipermainkan oleh para impotir serta terjadinya gejolak negatif Internasional termasuk iklim global. Apakah pengertian Menteri Pertanian atas Ketahanan Pangan Nasional adalah hanya bisa memenuhi kebutuhan konsumen rakyat Indonesia semata dari komoditas impor ? Tidakkah pengertian ketahanan pangan itu adalah juga harus dibangunnya kemampuan produksi dari dalam negeri yang tangguh atas komoditas yang sama ?

Usulan Solusi Dari Penulis

  1. Serahkan pengurusan kedelai nasional kepada Bulog dan Bulog harus dikembalikan kepada status semula menjadi Perum Bulog kembali.
  2. Pemerintah memberi dispensasi kepada Koperasi Tahu Tempe Indonesia agar bisa mengimpor kedelai dalam jangka pendek serta tanpa tarif impor.
  3. Adalah sangat mengandung resiko besar bila 70% kebutuhan kedelai adalah impor, seharusnya Pemerintah dalam jangka pendek membuat program rinci dan professional untuk tanaman kedelai dengan mengerahkan segala daya dan upaya maksimal semua ahli tanaman pangan agar bisa menghasilkan bibit kedelai minimal setara kualifikasi kedelai impor. Contoh bibit Edamame dari Jepang bisa lebih dikembangkan dan ditingkatkan. Lahan yang akan dipakai adalah lahan kedelai yang masih ada dulu dan dimaksimalkan penggunaannya. Kalau perlu adanya subsidi harga kepada para petani kedelai agar lebih gairah menanam kedelai.
  4. Perbaiki semua lahan pertanian kedelai dan lahan komoditas lainnya dengan menggunakan pupuk organik agar jasad renik tanah kembali sehat. Ini juga bisa memperbaiki peningkatan produktifitas tanaman secara spektakuler dengan bibit yang sudah ada.
  5. Manfaatkan dahulu lahan-lahan masih terlantar untuk menanam kedelai disamping realisasi rencana program pembentukan lahan jutaan hektar.
  6. Persiapkan pembangunan gudang-gudang silo untuk penyimpanan hasil produksi kedelai diseluruh sentra tanaman kedelai.
  7. Buat network planning yang mantab serta berjalan untuk menghindari ekonomi biaya tinggi terhadap program produksi kedelai lokal termasuk didalamnya strategi distribusi yang efisien untuk kedelai diseluruh Indonesia.
  8. Pengertian "Ketahanan Pangan Nasional" adalah membangun terlebih dahulu kemampuan mandiri kebutuhan komoditas pangan Indonesia agar bisa menjadi pengaman devisa negara serta tumbuhnya daya tahan pangan Nasional. Apabila terjadi kekurangan persediaan komoditas tanaman pangan didalam negeri, barulah diperbolehkan untuk Impor. Tidakan Impor hanya bersifat sementara sebagai katup pengaman persediaan stock Nasional.

Untuk para pengrajin Tahu dan Tempe bersama asosiasi dan para Koperasinya jika melakukan unjuk rasa, sebaiknya tidak demonstratif dengan membuang-buang tahu dan tempe secara dihamburkan dijalan, dimana masih banyak masyarakat Indonesia untuk membeli tahu dan tempe saja tidak mampu. Unjuk rasa seharusnya menggunakan tata cara yang baik tanpa tertawa dan menggunakan diplomasi unjuk rasa dengan intelektual yang cerdas, tertulis melalui Asosiasi dan Koperasi. (Ashwin Pulungan)

Salam, semoga para Partai, para Pejabat Pemerintah, para wakil rakyat tidak menjadi penjahat uang negara dan bangsa Indonesia.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline