Lihat ke Halaman Asli

Jalan Sunyi Seorang Penulis

Diperbarui: 24 Juni 2015   04:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

1386252251527552591

[caption id="attachment_282136" align="aligncenter" width="387" caption="Sumber: edogawakeepsmile.blogspot.com"][/caption]

Meski menulis tidak membutuhkan bakat tersendiri sebagaimana seorang pelukis atau penyanyi, tapi meniti jalan menjadi seorang penulis tidaklah mudah. Kalau saya sih memberi perumpamaan seorang yang belajar menulis itu seperti belajar naik sepeda. Semakin sering latihan, semakin terampil mengendarainya. Semakin tinggi jam terbangnya, dengan medan yang beragam, bahkan sampai medan-medan tersulit, maka kemampuan dan keterampilannya semakin terasah. Sesederhana itu.

Saya sempat membaca beberapa teori tentang kepenulisan, Menulis itu Mudah karya Arswendo Atmowiloto misalnya, tetapi intinya hanya ada satu cara untuk menjadi penulis, “Menulislah sekarang juga.” Teori-teori kepenulisan memang penting, tetapi hanyalah suplemen, sekunder. Itu keniscayaan bagi siapa saja yang ingin menggeluti sebuah profesi atau hobi, dia akan mencari segala hal untuk menguatkan profesi dan hobinya. Ibarat sebuah baju yang bolong, teori adalah penambalnya. Tapi kalau bajunya tidak ada, apanya yang mau ditambal.

Beberapa waktu lalu, ada seorang temen yang dating ke rumah, dia bertanya gimana caranya menjadi penulis. Ketika itu saya bilang, seorang penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik. Kemudian, saya suruh dia membuat sebuah tulisan. Sebelum memulai saya berpesan, ajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya, dan cari jawabannya. Setelah itu, verifikasi jawaban di antara buku-buku yang sudah ada atau cari narasumber yang bisa diajak bicara plus temukan jawaban sendiri. Kalau tidak bisa menemukan jawaban di buku-buku dan narasumber yang ada, gunakan rasionalitas untuk memverifikasi.

Inilah pergulatan seorang penulis. Bisa jadi akan banyak menyita waktu, membalok-balik buku di tengah malam yang senyap, bahkan akan selalu menggelayuti dan menghantui di mana pun kita berada. Terbawa sampai ke dalam mimpi, melamun di dalam toilet, makan pun akan tetap kepikiran, dan seterusnya. Di saat-saat itulah kamu akan berkata, “Aha…” Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang kamu ajukan akan menemukan jawaban. Inilah jalan sunyi seorang penulis, meski kau tidak sendirian. Seorang penulis akan bertemu dengan penulis lainya jauh di relung pemikiran dalam frekuensi yang tidak jauh berbeda.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline