Lihat ke Halaman Asli

Kenapa Perempuan dan Anak Selalu Menjadi Korban?

Diperbarui: 6 Januari 2017   19:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokumen pribadi

KENAPA PEREMPUAN DAN ANAK SELALU MENJADI KORBAN?Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, karena mengingat semua cerita itu adalah luka tersendiri bagiku. Bukan, meski bukan aku, tapi sebagai seorang perempuan sekaligus seorang ibu, aku merasa tak seharusnya cerita itu terjadi.

Ah, masih ingatkah dalam ingatan kalian tentang cerita Angeline? Tentang kematian tragis Yuyun? Pembunuhan sadis Eno dengan cerita gagang cangkul yang membuatku tak berani membaca beritanya hingga usai. Dan masih banyak cerita mengerikan lainnya tentang perempuan dan anak.

Aku tak tahu, kenapa semua itu bisa terjadi. Aku tak tahu, apakah para pelaku itu masih punya hati atau tidak? Yang jelas, mereka adalah manusia-manusia yang pernah tinggal di rahim perempuan, akan tetapi ketika mereka menjadi manusia seutuhnya, mereka melupakan hal itu. Mereka lupa, kalau mereka terlahir dari seorang perempuan. Dan yang mereka ingat hanyalah bagaimana cara melampiaskan nafsu mereka pada perempuan yang diinginkannya.

Argh... mengerikan. Apa agama memang hanya menjadi status saja? Apa hati benar-benar terkunci hingga belas kasih tak mampu merasukinya?

Entahlah...

Bahkan, kekerasan pada perempuan dan anak tak hanya terjadi karena orang luar saja. Melainkan, orang yang seharusnya menjadi pelindungpun bisa melakukan hal keji seperti itu. Dan contoh nyata yang tak bisa enyah dalam ingatanku, berita tentang seorang bapak yang tega menghamili anak perempuannya tersendiri, berita tentang seorang suami yang tega membunuh anak dan isterinya. Duh... apakah memang tak ada lagi tempat aman dan orang yang terpercaya di negeri ini? Di mana hati nurani itu berada? Di mana keadalian itu ada? Apakah harus terjadi baru hukum akan bertindak?

Entahlah...

Sekelumit Cerita Tentang Kekerasan Pada Perempuan dan Anak di Indonesia

Tahukah kalian? Setiap tahun, jumlah kekerasan pada perempuan dan anak terus saja meningkat. Di antaranya :

Jumlah kasus KTP 2015 sebesar 321.752, bersumber pada data kasus/perkara yang ditangani oleh Pengadilan Agama atau Badan Peradilan Agama (PA-BADILAG) sejumlah 305.535 kasus, dan dari lembaga layanan mitra Komnas Perempuan sejumlah 16.217 kasus;

Terpisah dari jumlah tersebut, ada sejumlah 1.099 kasus yang diadukan langsung ke Komnas Perempuan melalui Unit Pengaduan untuk Rujukan (UPR) yang sengaja didirikan Komnas Perempuan untuk menerima dan merujuk pengaduan korban yang datang langsung maupun yang masuk lewat surat dan surat elektronik. Unit ini dikelola oleh divisi pemantauan Komnas Perempuan.

Berdasarkan jumlah kasus sebesar 321.752 tersebut, jenis kekerasan terhadap perempuan yang paling menonjol sama seperti tahun sebelumnya adalah kekerasan yang terjadi di ranah personal. Sejumlah 305.535 kasus berasal dari data unduh PA-BADILAG dicatat dalam kekerasan yang terjadi di ranah KDRT/RP. Sementara dari 16.217 kasus yang masuk dari lembaga layanan mitra Komnas Perempuan, kekerasan yang terjadi di ranah KDRT/RP tercatat 69% atau 11.207 kasus

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline