MENUNGGU-NUNGGU HARI MINGGU
menunggu datangnya hari minggu
ada banyak umat yang berdebar-debar
berdebar ingin mendengar kotbah yang cerdas mencerahkan
yang menguatkan iman ditengah turbulensi dunia
bukan kotbah yang mengajak umat untuk menafikan dunia
lalu mengajak umat melanglang buana ke surga
atau kotbah dengan bahasa tinggi
bahasa kanaan
yang takmampu dipahami umat
berdebar karena dipastikan akan
ada sukacita surgawi yang melimpahi umat
selama ibadah berlangsung
dan hal itu amat menguatkan spiritualitas umat
berdebar karena ingin menyaksikan kaum lansia uzur memuji Tuhan
melalui paduan suara
berdebar apakah pendeta emeritus yang sakit-sakitan
masih bisa melayani firman
di jemaat itu
tanpa didera amnesia
berdebar apakah ibadah bisa dilakukan dengan tenang
dan khusuk
sebab acapkali datang sekelompok orang dari kampung lain
yang mengacau pelaksanaan ibadah
sebab gedung gereja yang digunakan belum berizin
hari minggu ditunggu dengan
penuh syukur dan sukacita
persekutuan
pelayanan
kesaksian
menyaturaga pada ibadah minggu
yang memberi energi baru
bagi umat
yang tengah didera pergumulan
takbisa dibayangkan
jika hari minggu diubah menjadi hari kerja
lalu dicari hari lain sebagai hari libur
mengganti hari minggu
pikiran bernuansa halusinasi seperti itu pernah muncul
di zaman orde baru
dan pemikiran-pemikiran yang beraroma halusinasi
takpernah mendapat ruang
dalam sebuah komunitas cerdas yang selalu mengandalkan
cara berpikir logis
hari minggu
ditunggu
dirindu
umat Tuhan
mengaku dosa
dan memohon belas kasihan Tuhan
agar hidup umat
dilumuri rasa damai dan sejahtera
agar tegar menuju ke keabadian.
Jakarta, 27 Agustus 2022/pk.12.05
Weinata Sairin
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H