Lihat ke Halaman Asli

Weinata Sairin

Teologi dan Aktivis Dialog Kerukunan

Hidup Mengalirkan Empati

Diperbarui: 22 Juni 2021   13:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi empati (sumber : http://himpsijaya.org/)

HIDUP MENGALIRKAN EMPATI

kehidupan umat manusia diwarnai
diksi dan tindakan
empati
tanpa henti
merawat tubuh luka
dunia dirundung duka

manusia tidak pernah hidup sendiri menyendiri
dalam belenggu ego sentris
dan belitan mindset ghetto

manusia dalam desain ilahi
hidup berpasang-pasangan
sejak awal mula
ada adam dan hawa
ada dualitas
ada kesalingan
ada cintakasih
meliliterat dua tubuh berbeda nomenklatur

manusia benar-benar disebut manusia
andai ia hidup diantara manusia dalam komunitas manusia
dan bukan di hutan bersama binatang-binatang hutan yang jinak dan liar

di zaman digital
msnusia tergoda untuk hidup sendiri
memuaskan diri sendiri
lewat jari jemari
dan aplikasi gadget
serta phubing
yang mendorong manusia hidup dalam alienasi

dalam habitus baru
keadaban baru
dan kenormalan baru
bahkan manusia harus sanggup hidup ditengah virus pencabut nyawa
manusia mesti membangun silaturahim, kesetiakawanan,solidaritas,simpati,empati
lewat sembako,blt.,diakonia,amal saleh, diksi elegan berbalut kasihsayang
mari hidupi dunia yang terluka
dengan hati bergelimang cinta
dan nyala kasihsayang.


Jakarta, 21 Juni 2021/3.50
Weinata Sairin

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline