Lihat ke Halaman Asli

Kris Wantoro Sumbayak

TERVERIFIKASI

Pengamat dan komentator pendidikan, tertarik pada sosbud dan humaniora

Hutan Karet yang Ngeselin, Salam Tempel yang Ngangenin

Diperbarui: 24 Mei 2020   17:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi seorang anak mendapat salam tempel | foto: shutterstock via thr.kompasiana

"Yah... tidak ada lagi yang ngasih aku salam tempel dong...", ucapku polos disambut tawa seluruh kerabat, kira-kira setahun sepeninggal pakde pertama dari pihak ibu.

Lebaran, selebrasi seluruh umat muslim setelah berjuang sebulan puasa memberi banyak kesan dan kenangan. Berkah bagi mereka yang tak pernah bolong puasanya, rezeki limpah bagi mereka penjaja penganan khas lebaran, anugerah bagi anak-anak macam aku---sasaran amal pakde-bude, om-tante.

Aku, sekalipun tidak merayakan lebaran, turut kecipratan rezeki. Kerabat bapak dan ibu majemuk keyakinan. Islam, Kristen, sampai Budha. Lebaran, sebagai perayaan umat mayoritas di Indonesia, tak jarang diikuti semaraknya oleh pemeluk agama lain.

Biasanya, aku dan adik perempuanku diajak bapak-ibu bersilaturahmi ke rumah kerabat di daerah Blotongan, Salatiga, berjarak 6 km dari kampung kami, Watuagung. 

Masa aku Sekolah Dasar, jarak itu terbilang jauh, soalnya belum banyak warga punya kendaraan pribadi, termasuk bapak. Angkutan umum pun masih hitungan jari, adanya angkudes. 

Bapakku, dengan prinsip hemat-sehatnya, mengajak kami berjalan kaki menembus hutan karet. Enam kilometer jalan kaki, bro! Untuk usia kelas 4 SD, tidak ada yang menarik dari perjalanan ini selain banyak nyamuk, jalannya terjal dan panas.

Saat berangkat, derita perjalanan bisa diabaikan, karena semangat akan bertemu saudara-saudara sepupu.

Pakde-bude dan om-tanteku dibilang lebih berada dari bapak-ibu. Ada yang punya toko, penjual makanan, atau pegawai pabrik. Dari mereka, selain berbagai penganan, yang paling ditunggu-tunggu tentu salam tempelnya! Bukan nominal, tapi kesannya. Tambah seru kalau dikasih kembang api oleh pakde yang punya warung besar.

Biasanya pakde-bude akan memberi uang lembaran baru, seperti kertas baru disetrika, mulus, wangi pula! Jika dikalkulasi nominalnya juga lumayan besar. 

Jika satu orang memberi Rp 1.000 -- Rp 2.000 (kalau tidak salah, maklum otak disket), dikalikan setidaknya sepuluh orang, maka Rp 15.000 bisa di tangan. 

Untuk belasan tahun lalu, jumlah itu cukup besar. Meski akhirnya dipakai untuk beli mercon, haha. Momen seru ini hanya ditemukan saat lebaran.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline