Lihat ke Halaman Asli

Syainullah Wahana

Berlokasi di Sulawesi Indonesia

Wujudkan Cita-cita Anak pada Nangkring Kompasiana Bareng Bumiputera

Diperbarui: 31 Agustus 2016   15:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto Bersama Kompasianer Makassar dengan Bumiputera (Dok Foto: Iskandar Zukarnaen

Tak mengherankan hidup ini penuh dengan kegalauan setiap orang tua, mereka begitu mengkhawatirkan masa depan anaknya. Sebagai orang tua yang menyayangi anak, saya sendiri juga pernah merasakan bagaimana sikap orang tua mengejar – ngejar sesuatu yang dinamakan kehidupan, yang definisi dan tujuannya sering tak jauh dari genggaman kita. 

Pernah suatu hari, ayah saya menggamit lengan saya dan menggiring saya dengan begitu bersemangat kearah pantai, sambil berjalan beriringan bersama mendekati bibir pantai. Kata Ayah saya “Inilah keindahan itu, lautan yang begitu luas, penuh dengan keanekaragaman jenis tumbuhan dan hewan dibawah laut. Mereka jarang keluar dari zona nyamannya, Namun tumbuhan dan hewan laut itu tetap kompak bekerjasama membangun peradaban mereka dibawah laut yang begitu indah dan enak dipandang ketika laut itu begitu jernih nampak tembusan cahaya” dan saya sendiripun terdiam melihat keindahan itu, begitu nyata.    

Di hari ini saya dengan teman Kompasianer Makassar lagi berada di Hotel Santika, Jl. Sultan Hasanuddin No.40, Makassar.  Turut meramaikan jiihhh, dan mensukseskan acara nangkring kompasiana bersama Ajb Bumiputra yang didirikan sejak tanggal 12 Februari 1912 hingga sekarang masih tetap berdiri kokoh melayani rakyat Indonesia. 

Sesuai tema kegiatan “Mewujudkan Cita-cita Anak”, panitia kegiatan menghadirkan beberapa pemateri. Acara pembukaan disambut hangat oleh kang Pepih Nugraha yang merupakan CEO Kompasiana, pada rangkaian sambutannya tendengar serius menjelaskan bahwa harapannya untuk Kompasianer Makassar agar meningkatkan gaya bahasa penulisan yang berkarakter ciri khas makassar. 

Mendengar itu, begitu cukup membuka wawasan saya untuk belajar menulis dengan bergaya ciri khas makassar, dikalangan kehidupang keseharian saya seperti biasa bercakap dengan teman bernada sebutan kata yang ditambahkan akhiran kata gaya makassar (jih, mi, ki dan terbiasa tak sadar kelebihan “ng”). “Terkadang sayapun herang dengang kata – kata ku yang terucap dalam kebiasan hari – hari disetiap aktifitas”. Tapi di era makassar tidak rantasa’ (semboyan Kota Makassar untuk bersih sehat) ini sudah tidak terlalu kentara mi juga ucapang – ucapang itu. Heheee..Keseruhan acara setelah sambutan dari kang Pepih, membakar gelorah semangat menulis terkhususnya saya sebagai anak bangsa Indonesia untuk belajar bergaya tulisan budaya makassar mi saja dulu. Heheee... Soalnya, nakke tau mangkasara’ jih juga kodong.

Acara selanjutnya, dimoderatori oleh mas Iskandar Zulkarnaen merupakan Menajemen Kompasiana. Hari ini dia mendampingi pembicara handal yang dimana sesuai keahliannya membahas sejarah dan era perkembangan AJB Bumiputera, Ia adalah sosok perempuan cerdas bernama ibu Ana Mustamin kelahiran Bone yang sekarang menjabat sebagai Direktur SDM dan Umum AJB Bumiputera

Kini ibu Ana terkenal sebagai sosok perempuan kebanggaan perusahaan AJB Bumiputera. Ada beberapa pesan – pesan yang unik terdengar dari ibu Ana, salah satu ucapan yang menurut saya menarik perhatian saya yaitu “menciptakan beberapa karakter anak adalah sesuatu yang menarik sekali”.Ucap ku, yaa.. mungkin karena sesuai tema, maka ada terselip ucapan seperti itu, Heheee..  

Menurut saya, jadi pembicara itu sangat menyenangkan. Namun, mendengarkan itu adalah seninya. Seperti yang telah kita ketahui bersama mendengarkan itu berbeda dari mendengar, kita bisa saja secara aktual dan fisik dapat mendengarkan orang – orang disekeliling kita berbicara tetapi kita tidak benar – benar mendengarkan apa yang mereka katakan, dan apa yang kita dengar itu hanyalah suara yang hanya terlintas begitu saja. 

Sebagai pendengar baik, saya berusaha belajar memahami ucapan ibu Ana, Dia berbicara yang terlihat membutuhkan fisik lebih keras, menghasilkan suara dari pita suaranya berusaha membuat para pendengar mengerti penjelasannya yang datang pada hari itu. Kalimat penting dalam acara ini saya mencatatnya, Bumiputera 1912 merupakan perusahaan asuransi cukup lama atau sudah sekitaran 100an tahun mi berdiri dan bertahan dengan banyaknya persaingan perusahaan asuransi yang berkembang di Indonesia. 

Ibu Ana mengungkapkan bahwa Bumiputera adalah perusahaan milik rakyat. Sepintas saja saya mendengar itu, mungkin masih ada yang kurang jelas. Ucap ku, dalam hati “Sebentar mi saja saya pertanyakan...kalo masih ada yang belum saya mengerti deh”. Menunggu sesi pertanyaan, sayapun bersiap mi bertanya. Namun, terkadang saya juga herang tidak mengangkat tangan saat itu, mungkin masih malu – maluka kodong. Kasihan ku dehhh.. Hahaaa. Terpaksa menjadi pendengar terbaik saja dulu. Yaahh, pada intinya saya juga akan berusaha Mewujudkan Cita – cita Anak saya nanti, beranggapan mungkin itu setelah menikah dan memiliki anak. 

Paling tidak saya sudah siap merencanakannya (Perencanaan Keuangan dan Pendidikan Anak Untuk Masa Depan Mereka). Terlintas ucapan ibu Ana sekedar mengingatkan bahwa orang tua semestinya tidak memaksakan kehendaknya dimana anak harus menuruti kemauan orang tua saja. Iya, itu mi sayapun sependapat dengan itu “sambil menggoyangkan kepala dengan arah atas bawah” seakan membenarkan penjelasan ibu Ana. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline