Lihat ke Halaman Asli

Wachid Hamdan

Mahasiswa Sejarah, Kadang Gemar Berimajinasi

Meraih Makna, Rasa, dan Tawa saat Lebaran meski Tanpa Penglihatan

Diperbarui: 26 April 2024   14:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tebar Hikmah Ramadan. Sumber ilustrasi: PAXELS

Lebaran 2024 merupakan tahun ke-empat diriku tidak lagi asyik menatap gemrlap hari raya idul fitri. Sebab sudah sejak 2020 mataku pensiun dari menatap cahaya dunia. Ia kini tengah istirahat damai. Mungkin juga sambil ngopi. Yups, diriku merupakan penyandangg disabilitas netra. Kini semua serba gelap dan tidak ada kerlip cahaya. Meski gitu, aku harus bisa bahagia di lebaran tahun ini.

Kalo ngomong soal lebaran, kawan-kawanku sudah berkicau ke mana-mana. Ada yang Mudik, Wisata, Lamaran, Ajang pdkt, dan sebagainya. Lha aku? Hmmm. Ya, gitu. Menyesap kopi, merenung, diam dan mencoba mencari celah rasa bahagia dari obrolan mereka. Lha gimana? Mereka sharing tentang pemandangan, tempat yang cocok buat shoot foto instagram, dan obrolan yang aku Cuma bisa mbatin lainnya.

"Hid, dirimu ndak mau cari tempat foto keluarga?" tanya salah satu teman.

"Ndak usah lah. Entah kenapa. Akhir-akhir ini aku sering foto, cuman aku ndak bisa lihat diriku sendiri," celetukku .

"Ehh! Bukan gitu maksudnya, bos. Kamu itu sukanya dark jokes gitu," balasnya glagapan tapi sambil tertawa.

Dari kesemua aktivitas lebaran itu, diriku mencoba rileks saja memaknai semua hal. Mulai mudik, beli baju, silaturahmi, dan hal lain, kucoba tak sikapi dengan santai. Karena esensi dari Idul Fitri adalah hari yang bersih, suci, dan seperti kain putih tiada noda. Jadi, over thinking terkait kondisi mataku, jelas ndak tak pikir nemen-nemen.

Tetap Bisa Bersyukur dengan Keadaan

Enaknya memiliki kondisi sepertiku ini, pastinya tidak terlalu terganggu dengan diskon ugal-ugalan, flashsale, cash back, dan pernak-pernik lebaran yang bertebaran di akhir-akhir Ramadhan. Jadi rasanya itu slow dan tiada beban untuk mencari tempat yang penuh diskon. Sehingga tidak makin menyiksa dompet yang udah sangat tipis.

Karena setelah mengalami kebutaan, diriku cukup banyak mendapatkan hhikmah kehidupan. Semua itu kupahami sebagai esensi dan fungsi. Estetika tidak lagi menjadi hal wajib. Jadi, aku merasa baju tidak harus baru dan sebagainya. Karena bahagia lebaran itu bukan dari baju baru, melainkan rasa syukur kita masih diberi waktu untuk silaturahmi dan berbagi tawa dengan saudara kita.

"Lho ndak beli baju, kak?" tanya adikku saat buka puasa.

"Belum minat, dek. Soalnnya bajuku masih banyak yang bagus. Jadi, mending uangku tak pake yang lain," balasku santai.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline