Lihat ke Halaman Asli

UlilAlbab

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Hari Raya Idul Adha: Raih Kemenangan Dengan Kebahagiaan dan Peduli Antar Sesam

Diperbarui: 17 Juni 2024   17:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Dokumen Pribadi

Hello sobat kompasiana! Gimana nih kabar hari ini? Baik kan? Kali ini penulis akan menceritakan sejarah singkat tentang hari raya umat muslim yaitu hari raya Idul Adha. Hari Raya Idul Adha adalah hari dimana umat muslim merayakan hari rayanya setiap tanggal 10 Dzulhijah. Sejarah singkat hari raya idul Adha menceritakan tentang besarnya ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan putranya yang bernama nabi Ismail. Hal itu dilakukan karena sebagai bentuk kepatuhan dan ketakwaan beliau terhadap perintah Allah SWT. Walaupun hari raya idul Adha ini dirayakan setiap tahun sebagian umat muslim masih belum mengetahui sejarah idul Adha, dan asal usul kurban dalam Islam. Sebelumnya Hari ini tanggal 17 Juni 2024 Penulis ikut memeriahkan serta ikut dalam pelaksanaan Sholat Hari Raya Idul Adha tahun ini. Pelaksanaanya yaitu di lapangan Jomblangan,Wonocatur,Banguntapan,Bantul,Daerah Istimewa Yogyakarta. selanjutnya Mari kita bahas tentang sejarah dan makna hari raya idul Adha ya guys!.

Sumber: Dokumen Pribadi

Asal usul korban di muka bumi yaitu ketika Allah memerintahkan perintah ibadah qurban yang tidak terlepas dari kisah nabi Ibrahim, dan anaknya yang bernama Ismail. Sebelum itu korban sudah ada dari kisah Qabil dan Habil, beliau adalah anak dari nabi Adam AS, namun saat itu korban tidak disyariatkan.

Sumber: Dokumen Pribadi

Mengutip jurnal UIN yang berjudul "tenang kurban (studi riwayat dan hikmahnya) tanda petik, riwayat korban berawal dari kopi, dan Habil dan Qobil. Mereka berdua merupakan anak anak nabi Adam yang ingin menikahi saudarinya, iqlima. Saat itu untuk mengatasi perselisihan, nabi Adam AS minta kedua putranya mobil dan Habil untuk menyembelih hewan kurban. Ketentuannya hewan kurban siapa yang diterima oleh Allah SWT, maka ia yang berhak menikahi iqlima.

Habil yang merupakan seorang pengembala mengorbankan kambing gemuk miliknya, sedangkan Qabil merupakan seorang petani mengorbankan segenggam hasil dari panennya yang paling jelek. Kemudian keduanya ditaruh  ke persembahan korban di atas sebuah bukit. Profil dan Habil bersama nabi Adam menyaksikan dari jauh apa yang terjadi terhadap dua macam kurban tersebut. Saat sudah dipersembahkan di atas batu ternyata korban itu musnah termakan api, sedangkan hasil tani yang dihasilkan Qoboil yang berupa gandum tidak tersentuh oleh api sedikit pun, dan tetap utuh.

Kisah pengorbanan kedua anak Adam tersebut tercantum dalam Al-Quran surah Al-Maidah ayat 27.

 

Arab-latin:  Watlu 'alaihim naba'abnai dama bil-aqq, idz qarrab qurbnan fa tuqubbila min aadihim wa lam yutaqabbal minal-khar, qla la'aqtulannak, qla innam yataqabbalullhu minal-muttaqn.

 Artinya: Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika mempersembahkan keduanya korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil : "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline