Lihat ke Halaman Asli

Tubagus Lawalata

Pedagang Air Keliling

Menulis adalah Menyalurkan Suara yang Terpendam, Bukan Ajang Mencari Ketenaran

Diperbarui: 5 Februari 2021   16:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Terkadang , suara-suara yang terpendam dan cuma bisa didengar di poskamling, warung kopi dekat pasar atau kios penjual rokok depan terminal jauh lebih penting dari pada mereka yang ramai, terkenal dan duduk di kursi seharga 2juta rupiah. Memang semua mempunyai peranan dalam pemerintahan dan kehidupan namun jika suara-suara tersebut tidak bertemu dan menjadi realisasi dalam kehidupan sehari-hari maka akan menimbulkan permasalah yang berulang dan tanpa ujung penyelesaian.

Semua permasalahan yang terjadi akan terus berulang dan berulang. Seakan tidak ada kesempatan untuk belajar dan malah membuat malu gelar yang dipajang dibelakang nama para akademisi, pejabat atau politisi yang begitu panjang seperti kereta api lintas Jawa. 

Tulisan ini sekadar opini sore yang tercurahkan menemani segelas kopi yang sudah tidak panas lagi. 

Mari, kembali menyeduh dan meramu agar hidup tidak sia-sia dan penuh dengan drama politik yang tak kunjung usai, padahal ancaman bencana alam setiap saat siap mengintai. 

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline