Lihat ke Halaman Asli

Severus Trianto

Mari membaca agar kita dapat menafsirkan dunia (W. Tukhul)

Jokowi: The First Heavy Metal's President

Diperbarui: 18 Juni 2015   05:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

14062876751026969142

"Jika kau suruh para pemimpin dunia untuk diam, maka para jawara thrash metal-lah yang akan berteriak!" Dan terjadilah demikian. Seruan Hashim Djojohadikusumo kepada para pemimpin dunia untuk jangan dulu memberi ucapan selamat kepada Presiden terpilih, Joko Widodo, digilas oleh seruan nyaring para petinggi musik cadas internasional.

[caption id="attachment_316793" align="aligncenter" width="630" caption="Randy Blythe dan Jokowi (loudwire.com)"][/caption]

"The first heavy metal's President," kicau Rand Blythe, vokalis Lamb of God, dengan antusias. "Now if only all other countries will follow suit," komentar Anthrax di laman Facebook mereka. "Joko Widodo, congrats on the election. I can't wait to play Indo and hope to meet you," seru Dave Mustain, pentolan sekaligus pendiri band legendaris, Megadeth.

[caption id="attachment_316794" align="aligncenter" width="333" caption="Dave Mustain, pendiri Megadeth (loudwire.com)"]

1406288000667909053

[/caption]

Yang menyatukan para punggawa aliran musik cepat dan sang Presiden terpilih, Joko Widodo, lebih dari sekedar kesamaan cita rasa musikal. Blythe, misalnya, dapat duduk bersama Jokowi dan bicara panjang lebar tentang beragam album terbaik dari kelompok legendaris semacam Slayer dan Metallica, karena baik Blythe maupun Jokowi disatukan oleh rumusan yang sama dalam meracik ramuan kehidupan: keberanian menjadi diri sendiri dan kemauan untuk bekerja dan berkarya tanpa henti.

[caption id="attachment_316795" align="aligncenter" width="503" caption="Anthrax...tik the timeee..yeah (revolvermag.com)"]

14062881911682135022

[/caption]

Dalam sambutannya untuk mengantar Metallica ke dalam Rock n Roll Hall of Fame, Flea, bassist Red Hot Chili Pepper, berujar soal jati diri. Metallica sukses karena mereka berani menjadi outsiders dari main stream musik di tahun '80 an. Motivasi mereka dalam bermusik adalah murni. Karena keberanian semacam itulah, melalui single perdana, Hit the Lights, Metallica memproklamirkan satu genre baru dalam blantika musik metal, yaitu arus musik yang didominasi oleh permainan riff yang rumit, cepat tapi begitu persisi, dibarengi kecepatan dentuman drum yang seringkali diselipi hentakan double bass. Lahirlah genre musik yang sekarang dikenal sebagai thrash metal.

[caption id="attachment_316797" align="aligncenter" width="630" caption="Flea, Red Hot Chilli Pepper (loudwire.com)"]

14062884111481027535

[/caption]

Tragedi setiap manusia, lanjut Flea, adalah ketika ia meninggalkan dunia ini tanpa mampu menyanyikan lagu yang ada di dalam dirinya. Sebaliknya, kepenuhan hidup manusia tercapai ketika sebelum ajal tiba, ia mampu menemukan nada-nada untuk menyanyikan lagu yang ada di dalam dirinya.

Bagaimana jati diri Joko Widodo, tiada seorangpun yang tahu. Bahkan, beliau sendiri masih terus berjuang untuk menjadi seorang Jokowi. Akan tetapi, paling tidak, selama ini, baik sebagai pejabat pemerintahan ataupun sebagai capres selama masa kampanye kemarin, Jokowi berani 'melantunkan lagu' yang adalah miliknya sendiri. Gaya kepemimpinan blusukan, misalnya, adalah sebuah terobosan dalam menjalankan mandat yang beliau terima baik sebagai Wali Kota Solo maupun sebagai Gubernur Jakarta. Sebagai caprespun, Jokowi tidak berubah. Beliau tidak meniru gaya tokoh lain, misalnya meniru bung Karno, tetapi tetap menjadi seorang Jokowi yang terus blusukan; cuma kali ini blusukannya sampai ke Papua. Keberanian menjadi diri sendiri inilah yang diharapkan nantinya melahirkan banyak terobosan baru untuk memecahkan masalah bangsa dan negara. Blusukan hanyalah satu nada dari sebuah maha karya yang harus dimainkan bersama seluruh rakyat, sebuah master piece yang bernama Indonesia.

Arti kerja keras bagi pengusung musik thrash tidak sulit ditemukan. Wajah permusikan Amerika di tahun '80 dipenuhi penampilan kelompok-kelompok musik beraliran glam (dari kata glammour) metal semacam Bon Jovi dan Poisson. Aliran ini menyandingkan unsur pop dengan hard rock untuk membawakan lagu-lagu bertema 'percintaan.' Tanpa kerja keras dan keberanian untuk gagal, tidak mungkin para penggiat musikthrash metal, yang memainkan tempo super cepat untuk membawakan lagu-lagu bertemakan sisi gelap manusia dan masyarakat, mampu bersaing dan merebut tempat yang sejajar dengan pemusik lainnya, khususnya dengan kelompok-kelompok glam metal yang begitu dominan saat itu. Keberanian untuk menjadi diri sendiri, untuk bermimpi besar dan bekerja keras akhirnya membawa thrash metal ke pentas dunia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline