Lihat ke Halaman Asli

Totok Siswantara

TERVERIFIKASI

Menulis, memuliakan tanaman dan berbagi kasih dengan hewan

Kunjungan Jokowi ke UEA dan Urgensi Transformasi Pembiayaan Iptek

Diperbarui: 17 Juli 2024   14:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Presiden Jokowi bertemu Putra Mahkota UEA Pangeran MBZ (Sumber:Biro Pers Sekretariat Presiden via Kompas.com)

Kunjungan Jokowi ke UEA dan Urgensi Transformasi Pembiayaan Iptek

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melaksanakan kunjungan kerja (kunker) ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Publik berharap kunjungan itu tidak sekedar menarik investor untuk pembangunan infrastruktur di IKN saja, namun lebih bermakna jika kunjungan tersebut bisa menjadi momentum transformasi pembiayaan Iptek di Tanah Air. Pasalnya UEA, khususnya kota Abu Dhabi telah sukses menjadi kota pengembangan iptek dengan skema pembiayaan riset yang sangat fantastis. Juga bertumbuhnya sederet tekno park kelas dunia di UEA.

Terkait dengan pembiayaan Iptek skala global perlu mencontoh Kota Dubai. Dubai memiliki populasi terbesar dan merupakan emirat terbesar kedua menurut luasnya, setelah Abu Dhabi. Dubai dan Abu Dhabi adalah satu-satunya dua emirat yang memiliki hak veto terhadap masalah kritis kepentingan nasional dalam Dewan Nasional Federal negara itu. Dubai telah dipimpin oleh dinasti Al Maktoum sejak 1833.

Untuk kesekian kali Jokowi bertemu dengan Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan atau Pangeran MBZ. Perlu dicatat UEA merupakan negara Timur Tengah pertama di mana Indonesia memiliki perjanjian kemitraan komprehensif atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Kemitraan tersebut antara lain dipusatkan dalam kerja sama di bidang energi bersih, seperti kerja sama energi surya di Waduk Cirata, Provinsi Jawa Barat.

Dalam beberapa kesempatan Jokowi bertanya kepada Pangeran MBZ tentang strategi untuk melakukan lompatan kemajuan dalam 40 tahun hingga sukses menjadi negara maju dan kaya. Kemajuan yang diraih UEA di atas terkait dengan berbagai faktor. Utamanya faktor pembiayaan ilmu pengetahuan, kapasitas inovasi dan pengembangan startup nation atau perusahaan rintisan berbasis inovasi.

Kebijakan nasional untuk pengembangan Iptek, khususnya kegiatan inovasi sebaiknya meniru strategi global. Ada dua strategi global yang bisa dijadikan masukan berharga. Strategi pertama adalah pendirian taman-taman bisnis yang diperuntukkan bagi sektor industri spesifik. Contoh negara yang sangat progresif dalam mendirikan aneka taman bisnis adalah UEA.

Dibawah kepemimpinan Sheikh Mohammed, negara itu telah membangun secara spektakuler Dubai Internet City (DIC) yang dirancang dengan bantuan Arthur Andersen dan McKinsey & Company. Selain itu juga didirikan Dubai Healthcare City, Dubai Biotechnology and Research Park, Dubai Industrial Park, Dubai Studio Park, dan Dubai Media Park.

Dengan terbangunnya taman-taman bisnis tersebut Dubai menjadi basis yang ideal bagi perusahaan multinasional apapun. Dalam waktu singkat perusahaan top dunia hadir dan membuat kontrak jangka panjang dengan nilai investasi yang besar. Diantaranya adalah Microsoft, Oracle, HP, Compaq, Siemens, Sony Ericsson. Begitu juga perusahaan raksasa media massa dan penyiaran memiliki cabang utama di Dubai Media Park. Seperti Reuters, CNN, CNBC, BBC, Arabian Radio Network.

Dengan menilik mukjizat ekonomi Dubai, kita bisa menarik benang merah ternyata ada dilema yang sangat mendasar. Dubai hanya menjadi taman-taman bisnis yang memamerkan hasil inovasi yang telah dibuat di negara lain untuk market regional tertentu. Dubai tidak menjadi pusat inovasi yang berarti. Namun, ada sisi keberhasilan yang patut digaris bawahi, yakni tumbuhnya ventura global yang luar biasa untuk pendanaan infrastruktur taman-taman bisnis tetapi tidak penghasil produk inovasi.

Strategi global yang kedua ditunjukan oleh Israel yang sukses membentuk perusahaan-perusahaan inovatif yang sukses menarik ventura global serta mampu menciptakan ekosistem teknologi yang terus menerus mencari produk dan pasar baru. Penting untuk dicatat bahwa hingga saat ini infrastruktur fisik di Israel masih kalah dibanding Dubai. Namun hukum alam telah menunjukkan bahwa aspek budaya dan ideologi ternyata merupakan tanah yang lebih subur untuk menumbuhkan pranata inovasi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline