Lihat ke Halaman Asli

Menepi Sejenak dari Hingar Bingar Kota Metropolitan Tokyo: Menghabiskan Hari di Pulau Enoshima

Diperbarui: 31 Mei 2021   23:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokpri

Alarm di ponselku bergetar dan suara deringnya memenuhi setiap sudut ruangan. Udara dingin perlahan mulai terasa mencengkeram sela-sela jariku pada pagi itu.

Hangatnya selimut dengan pemanas kala itu membuatku tak sadar jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi waktu setempat. Berita perkiraan cuaca di televisi pun mulai samar-samar terdengar meskipun dengan bahasa yang tidak bisa aku pahami.

Tidak terasa ini adalah hari ke-3 aku berada di Negeri Sakura, negeri yang membuat semua pelancong kagum dengan kebersihan tempat dan ketertiban warganya. Negeri di mana ramen, sushi dan udon berasal yang kini terkenal ke seluruh penjuru dunia. Jepang adalah surga belanja sekaligus destinasi wisata kuliner yang menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan internasional.

Di hari ke-3 aku dan temanku memutuskan untuk pergi ke sebuah pulau kecil yang mengapung di Teluk Selatan Prefektur Kanagawa, pulau yang berjarak sekitar satu jam dari pusat kota Tokyo yaitu Pulau Enoshima. Pulau Enoshima adalah pulau kecil dengan luas sekitar 4km di Kota Fujisawa Prefektur Kanagawa.

Aku berangkat dengan temanku bernama Ayu, yang meskipun namanya terdengar sangat Indonesia tapi sebenarnya dia adalah warga negara asli Jepang yang lahir dan besar di sebuah kota di pesisir Tokyo, Yokohama. Kulitnya yang putih merona dan matanya yang bulat mungil akan menjelaskan bahwa ia adalah warga negara asli Jepang.

Kami berangkat dari rumah pukul 10.00 pagi, cukup siang dari hari sebelumnya karena cuaca pada hari itu memang sangat dingin, sekitar 2 derajat Celcius. Kami pun berangkat dengan mengenakan pakaian tebal berlapis, lengkap dengan syal dan penghangat tangan yang aku beli di Toko Serba 100 satu hari sebelumnya.

Kami memutuskan untuk pergi menggunakan mobil pribadi karena cuaca yang tidak begitu bagus. Di sepanjang perjalanan, aku dibuat takjub oleh segala hal yang aku lihat di jalanan kota Jepang. Saat melewati jalan tol misalnya, aku dibuat penasaran dengan sistem yang ada sebab pengendara tidak perlu lagi membuka jendela dan menempel kartu e-toll seperti yang umum dilakukan di Indonesia.

Pengendara hanya perlu melewati sebuah gerbang yang mirip dengan gerbang tol di Indonesia dan berhenti beberapa detik kemudian biaya akan otomatis masuk ke tagihan akhir bulan.

Tidak berhenti sampai di situ, sistem parkir otomatis dan petunjuk jalan yang sangat akurat di sepanjang jalanan kota Jepang juga membuatku terkejut akan kecanggihan teknologi yang ada.

dokpri

Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, aku disambut oleh hamparan laut yang biru dan terlihat samar-samar Pulau Enoshima mulai tampak di seberang jembatan. Aku membuka kaca jendelaku dan mendengar merdunya suara deburan ombak diiringi suara khas burung pelikan yang sibuk beterbangan mencari santapan siang.

Di sisi lain, aku melihat logo Tokyo Olympic 2020 dipasang di sepanjang pesisir Pantai Enoshima untuk menyambut datangnya acara yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga Jepang tersebut. Kami akhirnya menyeberangi jembatan Bentenbashi yang menjuntai sepanjang 600m menghubungkan Pulau Enoshima dengan pulau utama.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline