Ada yang sedikit membanggakan saya sebagai "anak pelosok", yaitu ketiga bersama pak JK (Jusuf Kalla) menerbitkan buku keroyokan dengan judul "36 Kompasianer Merajut Indonesia". Saya bersama istri dan ketiga putri saya, memasuki akhir usia 40an ini kian kuat semangatnya untuk berbagi atas wawasan dan kebaikan. Tentu, fokus berbagi saya lebih besar porsinya untuk siswa. Dalam idealisme saya sebagai guru, saya memimpikan kemerdekaan guru yang sebenarnya, baik guru sebagai profesi, guru sebagai aparatur negara, guru sebagai makhluk sosial.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
[caption caption="lintang"][/caption]
(Puisi akhmad fauzi)
Aku merindumu di sepanjang nadi darah, sepanjang cara, sepanjang kata, sepanjang malam mimpi hilang, sepanjang gelisah menggenggam janji, sepanjang takdir lorong tak bertepi.
Aku menjemputmu tanpa batas antara. Di ranah wibawa suci yang menari-nari sepi. Di lubuk untaian hasrat membagi rasa. Di tanya-tanya para bidadari menebar bunga lestari makna tatap mata. Di seberang jauh huma-huma dengus hati manusia. Di riuhnya langkah sisakan jejak-jejak rapuh jiwa
Aku menunggu di balik tabir riwayat cerita Menjelang petang Lupa melupa walau deras butiran air mata
Lintang membisu, syak Seakan tak kan pernah percaya