Lihat ke Halaman Asli

Surat Suara

Mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Kekerasan yang Terjadi di Pesantren Kabupaten Batang Jateng

Diperbarui: 24 April 2024   21:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ruang Kelas. Sumber Ilustrasi: PAXELS


Kapolres Batang menetapkan Wildan (58) sebagai tersangka kekerasan seksual di sebuah pesantren di Kecamatan Bandar Kabupaten Batang pada tanggal 11 April 2023. Dia diduga melakukan pemerkosaan dan pencabulan terhadap santrinya yang berjumlah 14 santriwati."Iya benar. Yang bersangkutan sudah ditetapkan tersangka terkait dengan kasus tindak pidana perbuatan cabul dan persetubuhan anak di bawah umur," kata Kepala Polda Jateng Irjen Ahmad Luthfi di Batang seperti dilansir Antara, Selasa (11/4/2023).Dalam konferensi pers didampingi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Kapolres Batang AKBP Saufi Salamun, Luthfi mengatakan delapan santriwati mengalami luka robek pada alat vital. Enam korban lainnya dicabuli.Saat ini, pihak berwajib sedang melakukan pemeriksaan lanjut. Karena kemungkinan jumlah korban masih bisa bertambah. Kasus ini terjadi sejak tahun 2019-2023.Dia menjelaskan tersangka membangunkan korban dan mengajaknya ke kantin di kantin itulah tersangka (wildan) menjanjijan karomah kepada korban. Wildan menipu santrinya yang menjadi korban dengan mengatakan korban telah dinikahi tanpa saksi."Setelah dijanjikan bakal mendapat 'karomah', tersangka melakukan ijab-kabul. Setelah sah, menurut pelaku, korban kemudian disetubuhi. Usai disetubuhi, korban ini diberi uang jajan," katanya.Pada saat memberikan uang jajan tersebut, kata dia, tersangka juga melarang para korban mengadu kepada orang tua."Jadi, santriwati yang sudah didoktrin 'manut' sama kiai dan tidak berani mengadu. Kasus ini tentunya menjadi perhatian publik dan menjadi isu nasional, ini yang harus menjadi perhatian kita semua, khususnya yang menimpa anak-anak yang masih di bawah umur," katanya.Tersangka dikenai Undang-Undang Nomor 23 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara."Akan tetapi, karena perbuatan tersangka ini berulang-ulang, ancaman hukuman bisa 15 tahun dan paling lama 20 tahun penjara," ujar Lutfhi.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline