Lihat ke Halaman Asli

Marjono Eswe

Tukang Ketik Biasa

Fiksi Horor dan Horor Kita

Diperbarui: 22 Oktober 2020   09:44

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hobi. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Membaca fiksi serasa kita memasuki dunia yang lain, ada sukacita, kesedihan bahkan ketakutan. Salah satunya adalah kala kita membuka satu-satu lembaran buku, majalah maupun media sosial yang berkonten horor.

Horor atau tidak horor dalam kepenulisan sebenarnya tidak masalah, menjadi masalah ketika kita tak pernah mencoba belajar menulis bahkan taka da produksi menulis apalagi bisanya hanya menyalahkan penulis, terlebih dalam menulis fiksi.

Fiksi horor khususnya juga bagian keliaran kreatif kita untuk membuka mata atas isu diproduksi menjadi fiksi yang kadang membawa kita pada situasi dan pengalaman yang menyeramkan, mengerikan, menakutkan, dll.

Mengulik fiksi horor juga membuat kita melompat pada dunia atau pengalaman baru yang tak pernah kita temui. Hal ini sekurangnya bisa menjadikan kita pada stimulus positif dan produktif maupun sebaliknya.

Kala pada saku positif, bisa mendorong kita pada spirit dan passion untuk lebih dekat dengan sang Khaliq dan percaya ada kehidupan lain di luar dunia nyata. Begitupun, sebaliknya pada wilayah  kontra produktif, bisa-bisa kita berburu dan meniru hal yang sama atau mengimitasi perilaku aktor di dalam fiksi tersebut.

Namun sekali lagi, semua berpulang pada kita sendiri. Apakah kita sekuat macan atau kita terlampau letoy dan melempem saat dikoyak "hanya," dengan timbunan fiksi.

Pengalaman penulis membaca fiksi horor, disadari atau tidak disadari, kita seperi diajak turun gunung, terlibat dan menjadi bagian kisah didalamnya. Ada semacam dialog imajiner di dalam dada ini. Percaya atau tidak, dan tentu ini bukan ilusi ataupun delusi. Percakapan maya ini serasa nyata di depan mata, ketika kita turut penghayatan secara intens.

Dialog imajiner dalam fiksi horor ini mampu memompa atau memupuk tunas baru dalam  bermimpi, eksplorasi dan menemukannya. Karena apapun, semua berawal dari mimpi. Kaum muda terutama penulis pun untk memulai satu angel pun tema sampai alur bermula dari harus berani bermimpi. 

Seperti halnya Soekarno pernah mengatakan, "Bermimpilah setinggi langit jika engkau terjatuh, akan terjatuh di antara bintang-bintang." Sampai sekarang potensi fiksi horor termasuk film horor, komedi horor, sinetron horor punya customer sendiri yang tak pernah padam. Banyak kisah horor yang masih tersimpan di kepala para orangtua, kakek nenek kita, pendahulu kita yang bisa kita formulasikan.

Memandikan Bahasa

Sewaktu menulis, membaca dan meyerap kisah fiksi horor, enggak usah terlampau dipikir banget, tidak perlu dibawa larut. Kita mesti cakap mengeloa emosional kita. Jangan sampai kita dikendalikan tokoh dalam fiksi, tapi kita di luar dan tetap menjadi pengendali emosi diri. Jika tidak, maka bersiaplah memasuki dunia alien. Jauh dari kenormalan dana cap terantuk dalam kerumunan subordinat yang terus melata.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline