Lihat ke Halaman Asli

Tazkia PutraPatijaya

Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang

Sisi Gelap Pembangunan Tol Tanggul Laut Semarang Demak: Nelayan Terboyo Wetan Tidak Bisa Melaut Lagi

Diperbarui: 13 Juni 2024   17:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambaran Tol Tanggul Laut Semarang Demak. Sumber: Dok. Arusutama, diakses pada 09/06/24.

Tol Tanggul Laut Semarang Demak (TTLSD) merupakan megaproyek hasil integrasi dua gagasan besar yakni tanggul laut raksasa Semarang dan Tol Semarang Demak. Integrasi kedua gagasan tersebut datang melalui Keputusan Menteri PUPR No. 335 Tahun 2017. Gagasan tanggul laut raksasa Semarang sudah muncul sejak 2001. Kemudian Tol Semarang Demak yang kini menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional muncul sejak Peraturan Presiden No. 58 tahun 2017. Diintegrasikannya kedua gagasan besar tersebut ditujukan agar infrastruktur ini memiliki dua fungsi sekaligus, yakni sebagai penghubung Semarang Demak dan sebagai pengendali banjir.

Namun di balik kecemerlangan gagasan tersebut terdapat nelayan yang terganggu akibat dari proses pembangunan TTLSD. Pembangunan TTLSD yang melintang di laut wilayah Kecamatan Genuk hingga Sayung  mengakibatkan aksesibilitas nelayan terhadap sumber daya jadi terbatas. Pada mulanya nelayan dapat menangkap ikan disekitar 2 – 3 Km lepas dermaga, kini terbatas hanya pada 1 Km. Keterbatasan aksesibilitas tersebut pun akhirnya berdampak pada pendapatan hariannya.

“Sekarang kami jadi kesulitan untuk mendapatkan ikan, kita mau ke tengah laut juga banyak alat berat dan barang-barang proyek juga. Mendekat ke area proyek pun kadang diusir, tidak jarang juga alat kita jadi rusak. Mau cari aman yang dekat-dekat sini pun ikan yang kita dapat ya sedikit.” Jelasnya pak Masrukin salah satu nelayan Terboyo Wetan saat diwawancarai (02/06/2024).

Dokumentasi Wawancara dengan Narasumber. Sumber: Dok. Pribadi pada 02/06/24.

Keterbatasan aksesibilitas itu pula akhirnya berdampak pada pendapatan harian nelayan. Sebelum pembangunan dilakukan nelayan mampu membawa pulang ikan minimal 10 Kg hingga 30 Kg dengan nilai tukar 1 Kg dihargai sekitar 30 ribu rupiah. Sedangkan, selama proses pembangunan berlangsung nelayan hanya mampu membawa pulang ikan 1 – 5 Kg saja. Jelas terjadi penurunan drastis pada pendapatan harian nelayan terdampak.

“Biasanya kita bisa bawa sampai 30 kilo, ya minimal 10 kilo lah sekali nangkep. Tapi kalua sekarang mah dapet 1 kilo saja sudah bersyukur” Ungkapnya pak Nugroho salah satu nelayan Terboyo Wetan saat diwawancarai (02/06/2024).

Pembangunan TTLSD memiliki dampak yang cukup berarti bagi nelayan Terboyo Wetan. Tidak berhenti pada aksesibilitas nelayan dalam menangkap ikan, penghasilan harian nelayan Terboyo Wetan pun turut terdampak. Akibatnya, sebagian besar nelayan Terboyo Wetan pun kian sulit memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Melihat dampak-dampak tersebut pun pemerintah provinsi dan pihak proyek turut turun tangan untuk membantu nelayan terdampak. Pihak proyek telah membuka kesempatan kerja bagi para nelayan terdampak sehingga nelayan mampu menutupi kebutuhannya dari hasil kerja proyeknya. Namun bantuan tersebut hanya bersifat sementara hanya selama proyek berlangsung. Tindak lanjutnya ialah mau tak mau dermaga para nelayan Terboyo Wetan perlu direlokasi.

Relokasi yang diwacanakan oleh pemerintah provinsi dan pihak proyek masih menuai pro kontra dibenak para nelayan. Hingga pada tulisan ini dimuat, wacana relokasi tersebut belum begitu menjadi solusi yang berarti bagi nelayan. Di balik dampak positif yang memungkinkan nelayan dapat melaut dan menghasilkan ikan dengan optimal seperti semula, lokasi relokasi yang cukup jauh dari rumah pun menjadi pertimbangan yang berat bagi para nelayan terdampak terutama dari segi keamanan wilayah dan alat tangkap yang jauh dari pantauan.

"Kemarin ditawari buat bantu proyekan, lumayan buat nutupin kebutuhan sehari-hari. Ga nentu juga jadwalnya, kadang dari pagi sampai siang tuh kita ngikatin bambu, sorenya ngejaring lagi. Sempat juga dikatakan mau direlokasi di sekitar Kali Babon, tapi ya sulit gitu, tempatnya jauh kan jadi waswas juga sama alat-alat kita, belum lagi arusnya Kali Babon itu sederas apa" ungkapnya pak Masrukin saat dimintai keterangan terkait solusi yang diberikan oleh pemerintah dan pihak proyek.

Di balik tujuan positifnya, pembangunan proyek TTLSD ini memberi dampak yang berarti bagi masyarakat sekitar. Nelayan Terboyo Wetan yang terdampak pembangunan mengungkapkan kesulitannya dalam mendapatkan ikan hingga mengakibatkan pendapatan harian yang menurun. Meskipun telah mendapat solusi kesempatan bekerja diproyek dan diwacanakan akan relokasi, dampak-dampak yang ditimbulkan tersebut masih perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah berwenang khususnya terhadap masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai nelayan sehingga solusi yang diberikan akan lebih efektif dan mengindahkan kedua belah pihak.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline