Lihat ke Halaman Asli

Taufiq Rahman

TERVERIFIKASI

profesional

Cerpen: Kucing Kampung yang Membuat Jengkel sekaligus Membuat Saya Jatuh Iba

Diperbarui: 26 Oktober 2020   18:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

reedit.com

Tadinya, sebagaimana orang-orang pada umumnya, saya sama sekali tidak suka dengan kucing-kucing kampung. Kehadirannya, menurutku, hanya membuat berisik dan sangat menganggu. Dan, oleh karena itu, sejak dulu saya tidak pernah sedikitpun memerhatikannya. 

Saya hanya tertarik kepada kucing ras dengan bulu tebalnya, yang berwajah bulat menggemaskan, bukan kucing kampung yang kumal, tidak lucu, dan kotor. Sampai pada suatu ketika, saya menemukan seekor kucing hitam persis di depan pintu kamar kostel saya. Suatu pagi.

Dengan bulatan putih di hidung yang warnanya sangat kontras dengan warna tubuhnya yang dipenuhi bulu berwarna hitam, kucing jantan itu tampak sangat manis. Begitu menurut saya.

Awalnya saya hendak mengusirnya. Tetapi, begitu saya memerhatikan wajah dan melihat sorot matanya yang sembab itu, ...... entah mengapa saya tiba-tiba berubah menjadi pria yang rapuh. Saya mendadak jatuh iba kepadanya. 

Seumpama saya bisa memahami bahasanya, melalui sorot matanya yang sembab itu, kucing itu barangkali sangat ingin meminta belas kasihan saya. Sedikit makanan saja.

Saya menjadi tidak tega. Saya akhirnya memutuskan memberinya makanan dengan mengambil sedikit ikan dari dalam kulkas dan memberikan ikan itu kepadanya. Kucing itu segera memakan ikan yang saya letakkan di wadah plastik. Dengan sangat lahap. Sesekali ia mengangkat kepalanya lalu menatap sebentar ke arahku. Melanjutkan makan lagi.

Usai itu, setelah beberapa menit, saya pun buru-buru pergi berangkat ke kantor. Saya tidak mau ketinggalan sedikitpun waktu. Ada rapat penting pagi hari itu.

Dan, seperti pagi yang sebelumnya, besoknya - pada pagi yang sama, kucing itu ternyata datang kembali ke kamar saya. Meminta makan lagi. Saya kembali membuka kulkas dan memberinya makan lagi.

Begitulah. Sejak hari itu, sejak sebelum Juni 2018, kucing itu menjadi rajin datang ke kamar saya. Bukan hanya pagi hari, tetapi malam hari juga.    

Ketika saya pulang bekerja, ketika malam sudah sangat larut, ia kerap saya jumpai sedang menungguiku di pertigaan jalan di dekat pangkalan ojek atau di depan pagar besi. 

Setelah ia tahu yang datang adalah saya, ia segera menguntit di belakangku, atau berlari-lari kecil di depanku. Jika ia di depan, sesekali ia berhenti, menengokkan kepalanya ke belakang, (barangkali) sekedar memastikan bahwa saya masih berjalan di belakangnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline