Lihat ke Halaman Asli

Syarif Yunus

TERVERIFIKASI

Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan

Menilik Potret Pendidikan Indonesia, Esensi atau Seremoni?

Diperbarui: 2 Mei 2020   12:03

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Pribadi

Apa kabar pendidikan Indonesia? Yuk, coba ditilik realitasnya.

Karena menilik itu berarti melihat dengan sungguh-sungguh atau mengamat-amati. Atau bolehlah disebut memeriksa. Karena siapapun yang memeriksa itu harus melihat dengan teliti. Agar tahu persis keadaannya.

Jangan seperti kawan saya yang seorang pendidik, belum apa-apa sudah menolak konsep "merdeka belajar". Sebuah cara berpikir yang buru-buru menolak tanpa mau menilik. Entah, apa sebabnya? Mungkin karena, pendidikan selama ini hanya berorientasi pada prinsip "tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi tidak tahu banyak tentang satu hal."

Maka tulisan ini pun, sama sekali tidak berwewenang untuk memvonis. Tentang pendidikan di Indonesia itu sudah menggembirakan atau memprihatinkan. Tapi sejujurnya. Di era revolusi industri 4.0 ini, hampir semua peradaban manusia telah berubah. 

Di era digital, perilaku manusia pun sudah berubah. Bahkan saat wabah Covid-19 seperti sekarang, semua orang pun dituntut berubah. Untuk lebih peduli pada cuci tangan, jaga jarak, dan hindari kerumunan. Silakan deh ditilik. Banyak hal di dekat kita sudah berubah. Teknologi, transportasi, perdagangan dan sebagainya. Sudah tidak seperti dulu lagi. 

Tapi sayang, dunia pendidikan bisa jadi paling lambat berubah. Atau bahkan belum berubah, masih begitu-begitu saja. Guru yang selalu merasa lebih hebat dari siswa. Ruang kelas yang tidak memerdekakan siswanya. Lalu belajar jadi tidak menyenangkan, seperti beban dalam hidup.

Sedikit saja untuk direnungkan. Ini terjadi di Indonesia. Ketika wabah Covid-19 terjadi, bukannya disembuhkan malah diperdebatkan. Sekarang dilarang mudik, masih saja ada yang cari taktik untuk balik. Wabah Covid-19 seperti jadi momen untuk menghardik lawan politik. Faktanya begitu. 

Maka bolehlah itu disebut potret kualitas sumber daya manusia Indonesia. Cerminan orang-orang yang sudah lulus dari proses pendidikan. Manusia terdidik yang belum tentu akademik. Maka wajar, ada kesan pendidikan tidak lagi menyentuh esensi. Hanya sebatas seremoni.

Tiap tanggal 2 Mei pun. Kita selalu peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Lalu, bagaiaman potret pendidikan Indonesia? Esensi atau seremoni?

Di atas kertas, sebenarnya esensi pendidikan sudah kelar. UU No. 20 Tahun 2003 tegas menyatakan "pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara." 

Selain berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, pendidikan harusberakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Agar pendidikan mampu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Itulah esensi pendidikan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline