Masalah pencemaran air, khususnya di Situ Jatijajar, merupakan isu lingkungan yang serius di perkotaan seperti Depok. Letak geografis Situ Jatijajar yang berada dalam Daerah Aliran Sungai Jatijajar membuat kondisi airnya sangat rentan terhadap perubahan akibat aktivitas manusia, terutama seiring dengan semakin luasnya wilayah perkotaan.
Situ jatijajar merupakan situ alami yang berasal dari mata air serta masukan dari Kali Baru. Situ Jatijajar terletak pada wilayah administrasi Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat. Situ Jatijajar memiliki kedalaman maksimum 3 meter. Bagian timur Situ Jatijajar terdapat permukiman padat penduduk dimana saluran drainase penduduk mengalir ke arah outlet Situ Jatijajar, Sebelah selatan terdapat hutan kota, Sebelah barat terdapat kantor arsip kehutanan dan restoran. Di bagian selatan Situ Jatijajar terdapat terminal Jatijajar. Pembangunan terminal Jatijajar menyebabkan partikel tanah terbawa air dan masuk ke Situ Jatijajar. Pada tahun 2018, dilakukan pengerukan sedimen. Outlet Situ Jatijajar menuju ke Kali Cipinang (Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Depok, 2018).
Kegiatan yang berada pada sekitar Situ Jatijajar adalah permukiman, rumah makan, dan toko. Kegiatan tersebut dapat memepengaruhi kualitas air Situ Jatijajar, karena limbah padat dan limbah air dapat masuk melalui drainase pada situ tersebut. Sumber air pada Situ jatijajar berasal dari Sungai Kalibaru, sekitar Terminal, dan air hujan, sedangkan outlet mengalir ke Kali Cipinang Timur. Kondisi perairan pada Situ Jajijajar cukup jernih. Situ Jatijajar dikelola oleh
Kelompok Kerja (Pokja) Situ Jatijajar yang bertujuan untuk menjaga kelestarian situ. Kegiatan yang ada di sekitar Situ Jatijajar yang mempengaruhi terjadinya penurunan kualitas air karenanya mini market, rumah makan dan Permukiman.
Sumber penyebab utama di Situ Jatijajar berasal dari permukiman. Jenis pencemar berupa bahan organik biodegradable. Limbah organik biodegradable merupakan bahan pencemar yang relatif mudah didegradasi oleh mikroorganisme. Dalam proses penguraiannya, mikroorganisme akan membutuhkan oksigen sehingga jika bahan organik yang masuk banyak, maka oksigen akan cenderung berkurang/menurun. Air yang tercemar dapat menjadi media bagi perkembangbiakan dan persebaran mikroorganisme termasuk mikroba pathogen. Fecal coliform dan total coliform mengindikasikan adanya pencemar dari feses baik feses manusia maupun hewan. Septic tank yang tidak dikelola dengan baik misalnya tidak kedap, terjadi overflow karena penuh, atau faktor lainnya akan menyebabkan terbawa oleh aliran air terutama pada musim hujan. Selain itu feses hewan seperti yang berasal dari rumah potong hewan juga berkontribusi pada peningkatan nilai fecal foliform dan total coliform dalam perairan.
Kegiatan yang ada di sekitar Situ Jatijajar berpengaruh dan memberikan dampak terhadap kualitas perairan. Hal ini disebabkan adanya masukan bahan-bahan pencemar ke dalam situ. Tinggi rendahnya nilai Indeks Pencemar dipengaruhi oleh jumlah dan jenis limbah yang masuk.
Upaya pemulihan Situ Jatijajar di Kota Depok menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan urbanisasi yang cepat di wilayah Jabodetabek. Situ ini memiliki luas sekitar 6,5 hektar dengan kapasitas penampungan air hingga 19.500 m³, menjadikannya komponen vital dalam ekosistem perkotaan. Namun, perkembangan infrastruktur seperti terminal bus baru dan perumahan di sekitar kawasan telah memunculkan tekanan lingkungan, termasuk sedimentasi, pencemaran air, dan penyempitan lahan hijau. Langkah pemulihan difokuskan pada pelestarian kawasan hijau dan penguatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan berbasis komunitas melalui program Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang memperkenalkan potensi Situ Jatijajar sebagai destinasi wisata edukasi dan budaya (Pratiwi, W. D., Widyaningsih, A., & Rani, M. S. , 2022).
Selain itu, Situ Jatijajar memiliki nilai lebih dalam mendukung ekonomi lokal melalui inisiatif berbasis budaya dan pendidikan. Taman Kaldera, Rumah Cinta Wayang, dan Arung Indonesia adalah beberapa kelompok komunitas yang memanfaatkan kawasan ini untuk kegiatan seperti pelatihan hidroponik, olahraga air, hingga festival budaya tahunan seperti Sedekah Bumi. Acara ini tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal. Infrastruktur yang telah diperbaiki, seperti jalur pejalan kaki dan jogging track, memberikan akses lebih baik kepada pengunjung, sehingga kawasan ini tetap relevan secara ekologis, sosial, dan ekonomi (Pratiwi, W. D., Widyaningsih, A., & Rani, M. S. , 2022).
Revitalisasi Situ Jatijajar juga mencerminkan integrasi antara perlindungan lingkungan dan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Dengan area tepi situ yang sebagian besar milik pemerintah atau swasta yang bertanggung jawab, kawasan ini mampu menahan tekanan urbanisasi yang tinggi. Pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan akademisi diharapkan dapat memperkuat fungsi Situ Jatijajar sebagai ekosistem yang multifungsi, mendukung keseimbangan ekologis, dan memberikan manfaat ekonomi serta sosial kepada masyarakat sekitar (Pratiwi, W. D., Widyaningsih, A., & Rani, M. S. , 2022).
Referensi