Lihat ke Halaman Asli

Suryan Nuloh Al Raniri

Pendidik, Penulis dan Pembicara

Ilmu dan Moral

Diperbarui: 16 Desember 2023   07:52

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok. pribadi

Ilmu pengetahuan telah menjadi pilar utama dalam peradaban manusia sejak  zaman kuno. Seiring berjalannya waktu, kemajuan ilmu pengetahuan telah  membawa perubahan yang signifikan dalam cara kita memahami dan berinteraksi  dengan dunia di sekitar kita. Dari revolusi ilmiah yang mengubah pandangan kita  tentang alam semesta hingga perkembangan teknologi modern yang membentuk  cara kita hidup, ilmu pengetahuan telah membuktikan nilai tak ternilai dalam  perjalanan manusia. Pembeda manusia dengan makhluk lainnya adalah bahwa manusia memiliki  akal. Dengan akal itu kemudian manusia memiliki kecenderungan untuk berpikir.  Dan kekshasan manusia berada pada adanya hasrat untuk berpikir, begitu  setidaknya kata Aristoteles. 

Apakah semakin berilmu, moral seseorang akan semakin baik? Tentu pandangan seperti ini setidaknya akan diperdebatkan. Ada juga orang yang cerdas tapi moralnya buruk, seperti korupsi, maling, dan kurang santun. Di dalam kehidupan, ilmu akan saling terkait dengan moral. Masalah moral tidak bisa dilepaskan dengan tekad manusia untuk menenmukan kebenaran, sebab untuk menemukan kebenaran dan terlebih lagi untuk mempertahankan kebenaran, diperlukan keberanian moral. Sejarah kemanusiaan dihiasi oleh semangat martir  

Yang rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan apa yang dianggap benar. Peradaban telah menyaksikan Sokrates dipaksa minum racun dan John Huss dibakar. Sejarah tidak berhenti disini, kemanusiaan tidak pernah urug dihalangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral, ilmuwan rawan sekali dalam melakukan prostitusi intelektual. Seorang ilmuwan harus mempunyai tanggung jawab social. Bukan saja karena dia adalah warga masyarakat yang kepentingannya secara langsung dimasyarakat, tetapi karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam keberlangsungan hidup manusia. Sikap social seorang ilmuwan adalah konsisten dengan proses penelaahan keilmuan yang dilakukan. Sering dikatakan bahwa ilmu itu bebas dari system nilai. Ilmu itu sendiri netral dan para ilmuwanlah yang memberikannya nilai.

Berpikir tentang kenyataan semesta, sosial dan kealaman, yang kompleks untuk dapat terlepas dari belenggu kebodohan. Itu pula yang membangun eksistensi manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Cagito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Berpikir inilah yang merupakan poin inti dari filsafat. 

Filsafat adalah pemikiran dan kajian menyeluruh terhadap suatu pemikiran, kepercayaan dan sikap yang sudah dijunjung tinggi kebenarannya melalui pencarian ulang dan analisis kecerdasan untuk menciptakan kebenaran, pertimbangan, dan kebijaksanaan yang lebih baik. Sedangkan Ilmu adalah usaha- usaha untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. 

Kemampuan untuk memahami, mengukur, dan meramalkan fenomena alam serta mengembangkan teknologi yang semakin canggih adalah hasil dari upaya ilmiah yang terus-menerus. Ilmu pengetahuan tidak hanya memberikan penjelasan tentang alam semesta ini, tetapi juga memberikan alat dan pengetahuan yang memungkinkan kita mengatasi berbagai tantangan yang kita hadapi, baik dalam skala individu maupun global.

Dalam era informasi dan teknologi saat ini, ilmu pengetahuan memainkan peran yang semakin penting dalam mendorong kemajuan dan inovasi. Berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti fisika, biologi, kimia, dan matematika, saling terkait dan memberikan landasan bagi pemahaman mendalam tentang dunia fisik dan biologis. Selain itu, ilmu sosial dan humaniora membantu kita memahami interaksi kompleks antara manusia, budaya, dan masyarakat.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline