Lihat ke Halaman Asli

Inilah Nasib Prabowo Subianto

Diperbarui: 26 Juli 2018   20:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi: Tribunnews.com

*Sebuah Obrolan Imajiner*

Seperti biasanya, setiap waktu luang dan ingin santai, si Mukidi sama si Poltak sering nongkrong bareng di warung wedangan mbah Darmo. Dalam kesempatan seperti itu selalu saja ada bahan obrolan, mulai dari yang hal-hal sederhana tentang nyinyiran politik yang bertebaran di medsos hingga hal-hal penting yang dikerjakan oleh pemerintahan presiden Jokowi.

Kemarin malam ada obrolan yang cukup menarik yang aku sempatkan untuk mengupingnya. Kebetulan aku juga lagi menikmati segelas wedang teh jahe gepuk kegemaranku di warung itu.

Mukidi: "Bro, aku dengar kabar Partai Gerindra lagi ada masalah internal dan ada gerjala terjadi perpecahan ya?"

Poltak: (sambil menyeruput kopinya) "Yuuups... "Naga-naganya terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah kubu Fadli Zon, yang berharap Prabowo tetap mencalonkan diri. Sedangkan kubu kedua adalah kubu Desmond J. Mahesa, yang mendukung Gerindra mencalonkan Gatot Nurmantyo sebagai Capres."

Mukidi: "Waahh...menarik ini. Bagaimana bisa begitu?"

Poltak: "Sejak awal, Desmond selalu berbicara di depan pers bahwa Prabowo merasa sudah tua, kurangnya elektabilitas dan lain-lain. Sedangkan Fadli Zon tetap bersikukuh bahwa Prabowo masih siap bertarung di Pilpres. Lalu situasi ini juga semakin diperkeruh oleh PKS, yang terlihat ingin Gatot menjadi Capres koalisi Gerindra-PKS. Itulah kenapa mereka sibuk dengan tagar #GantiPresiden daripada #PrabowoPresiden."

Mukidi: "Mengapa PKS bersikap seperti itu?"

Poltak: " Kamu tidak perlu heran bro. Kita semua tahu PKS selalu ijo matanya kalau urusan fulus. Hal ini berkaitan dengan logistik, yang menurut bisik-bisik tetangga, Gatot lebih kuat."

Mukidi: (sambil menyantap nasi kucing) "Lalu bagaimana nasib si Wowo?"

Poltak: "Posisi Prabowo memang dilematis. Gerindra memang tidak bisa bermain sendirian, mereka hanya punya 73 kursi di DPR, sedangkan syarat untuk mencalonkan Presiden haruslah 112 kursi. Nah, dengan PKS yang 40 kursi sebenarnya sudah cukup koalisi ini untuk mengusung Capres. Situasi ini dimanfaatkan PKS yang merasa diatas angin untuk menekan Prabowo supaya mundur saja. Tentu ada iming-iming yang membuat geleng-geleng kepala. Prabowo maju mundur dalam situasi ini.Mencalonkan diri sendiri tidak mungkin, karena PKS pasti berpaling."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline