Lihat ke Halaman Asli

suherman agustinus

Dum Spiro Spero

Menjadi Guru Kreatif di Masa Pandemi

Diperbarui: 29 Agustus 2021   14:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber ilustrasi: mediaedukasiborneo.com

Pengantar

Pandemi virus corona (Covid-19) telah membawa dampak buruk terhadap banyak bidang kehidupan bermasyarakat di Indonesia, termasuk bidang pendidikan. Pendidikan yang biasanya dilaksanakan secara tatap muka langsung, kini berubah menjadi tatap muka tak langsung atau tatap muka virtual. Tatap muka virtual dilaksanakan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, yakni menggunakan gawai yang terkoneksi dengan jaringan internet.

Kita mengenal beberapa istilah-istilah berikut: Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), Belajar Dari Rumah (BDR), Dalam Jaringan (Daring), Luar Jaringan (Luring), dan masih banyak istilah lain yang digunakan dalam rangka keberlangsungan pendidikan di masa pandemi ini. Istilah-istilah tersebut memang sangat mudah  dihafal, namun cukup sulit dalam praktiknya. Sebab, banyak kendala yang ditemukan, misalnya jaringan internet kurang stabil, kuota internet terbatas, kondisi listrik yang kurang stabil dan masih banyak kendala lainnya.

Pandemi Menuntut Guru Kreatif dan Inovatif

Pandemi virus corona mestinya tidak menjadi halangan bagi guru untuk tetap melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Sebaliknya, pandemi justru dilihat sebagai peluang sekaligus tantangan bagi guru untuk melakukan terobosan-terobosan baru dalam mengajar. Guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam memberikan pengajaran yang menyenangkan kepada peserta didik.

Guru yang kreatif adalah mereka yang memiliki wawasan yang luas di bidangnya dan mampu memanfaatkan media-media teknologi sebagai sarana penunjang dalam pembelajaran jarak jauh. Kreativitas guru dapat dilakukan dengan cara membuat atau mendesain pengajaran yang bervariasi, menarik dan diminati oleh peserta didik.[1]

Misalnya dengan cara membuat video-video kreatif yang tujuannya, yakni agar peserta didik dapat dengan mudah memahami materi yang sedang dipelajari dan mereka tidak pernah merasa bosan dengan pembelajaran yang sedang berlangsung.

Selain kreatif, guru juga  harus inovatif. Dalam arti, guru perlu memakai metode-medote yang baru dalam pengajaran. Metode yang lama yang dimana guru selalu berbicara dari awal hingga akhir pembelajaran (teacher center), harus segera ditinggalkan. Sebab, pembelajaran seperti itu sangat monoton dan membosankan. Guru harus memberikan ruang seluas-luasnya kepada peserta didik untuk mengeksplorasi diri.

Dalam konteks itu, guru hanya berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi proses berlangsungnya pembelajaran virtual. Fasilitator hendaknya menempatkan pembelajar atau peserta didik sebagai pusat pembelajaran.[2]

Maksudnya, peserta didik sendirilah yang bersikap aktif partisipatif dalam proses pembelajaran. Peserta didik dapat berkomunikasi secara aktif dengan sesamanya dengan merefleksikan apa yang mereka pelajari dalam setiap aktivitas belajar

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline