Lihat ke Halaman Asli

Hasil UN 99%, Pertaruhan antara Gengsi dan Kejujuran

Diperbarui: 26 Juni 2015   05:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Tanggal 16 Mei 2011, hasil Ujian Nasional untuk SMA dan SMK serentak diumumkan di seluruh Indonesia. Berdasarkan data kelulusan yang dilansir Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) sebagaimana diberitakan melalui media internet, televisi, dan koran, disebutkan bahwa: Persentasi kelulusan untuk SMA adalah 99,22%, sedangkan untuk SMK 99,50% (

Gengsi Pejabat Pusat dan Daerah?

Sudah menjadi harapan, bahwasanya tidak ada seorang pejabat baik di pusat maupun di daerah yang senang jika tingkat pendidikan di daerahnya dikatakan jelek. Tentu saja menjadi sebuah prestise jika seorang pejabat (selama dia menjabat), daerahnya menempati rangking yang tinggi dibanding daerah lainnya. Terlebih masalah pendidikan, yang menjadi salah satu indikator dalam penentuan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Sehingga terkadang, semua cara dilakukan agar bisa dikatakan tingkat pendidikan di daerhnya meningkat. Jika cara yang dilakukan bisa dipertangungjawabkan -baik dunia maupun akhirat- tentu tidak menjadi masalah. Tetapi jika pejabat tersebut memberikan "sinyal" atau "lampu hijau" agar hasil ujian nasional bagus, tentulah ini menjadi sesuatu yang tercela.

Hilangnya Nilai Kejujuran di Sekolah

Tersentak kita mendengar berita di TV atau membaca di koran, bahwa nilai rata-rata sekolah (US) yang dikirim oleh sekolah di seluruh Indonesia adalah nilai 8 dan 9. Kita sudah bisa menduga, bahwa sekolah akan berbuat "lebih" untuk "menyelamatkan" siswanya. Apalagi dengan adanya hak 40% nilai akhir kelulusan ditentukan oleh Nilai Sekolah. Sehingga tidaklah heran, jika ada sekolah yang mengirim nilainya berkisar 8 dan 9, kalau angka 10 mungkin tidak berani.

Belum lagi, banyak isu bahwa soal dan kunci jawaban sudah banyak beredar di kalangan siswa. Bahkan ada sekolah yang "membantu" muridnya dengan memberikan kunci jawaban secara langsung. Informasi ini pun bisa diperoleh dari mulut ke mulut, karena tidak ada satu pun oknum siswa atau guru yang secara jujur mau mengakuinya.

Akar Masalah

Sebenarnya, akar dari masalah ini terjadi tidak lain adalah karena kelulusan ditentukan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional. Dengan alasan itulah sehingga hampir semua sekolah di Indonesia merasa "perlu" untuk membantu muridnya. Ada yang berani, ada yang takut, bahkan ada yang super berani melakukan tindakan tidak jujur (yang notabene bertentangan dengan nilai kejujuran yang diajarkan sehari-hari di sekolah). Sekolah memandang, kelulusan model ini menjadi beban. Beban kepada pemerintah, beban kepada siswa, dan beban kepada masyarakat di sekitarnya.

Memang tidaklah pantas jika seratus persen kesalahan ditimpakan kepada pihak guru dan sekolah. Pemerintah pun masih menyisakan banyak Pekerjaan Rumah (PR) terkait dengan pemenuhan 8 Standar Nasional Pendidikan. Jadi sebenarnya, sekolah-sekolah di Indonesia belum layak diukur secara merata, mulai dari Jawa hingga Papua, dari perkotaan hingga pedesaan, dari sekolah SBI hingga sekolah terpencil.

Sebuah Solusi

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline