YAYASAN SWASTI SARI KEUSKUPAN AGUNG KUPANG BERI PENYEGARAN
KEPADA PARA GURU DAN PEGAWAI DI KOMPLEKS TAMAN PENDIDIKAN MERDEKA
Yayasan Swasti Sari merupakan sebuah Yayasan milik Keuskupan Agung Kupang, yang bergerak di bidang sosial, keagamaan dan kemanusiaan. Dalam bahasa Sansekerta, Swasti Sari berasal dari dua suku kata, yaitu Swasti dan Sari. Swasti berarti pendidikan dan Sari berarti inti. Dengan demikian, maka secara sederhana, Swasti Sari bisa diartikan sebagai pendidikan inti.
Pada hari Jumat, 19 Juli 2024, kemarin, Yayasan Swasti Sari mengadakan pertemuan bersama para kepala sekolah, guru dan pegawai yang berada di kompleks Merdeka. Pertemuan itu terjadi di Aula SMA Katolik Giovanni Kupang. Perlu diketahui bahwa sekolah-sekolah yang berada di kompleks Merdeka dimulai dari jenjang SD, SMP dan SMA. Sekolah-sekolah itu ialah SD Don Bosko 1, SD Don Bosko 2, SD Don Bosko 3, SD Don Bosko 4, SMP Katolik Giovanni dan SMA Katolik Giovanni.
Pertemuan yang dimulai pada pukul 09.00-13.15 WITA ini diikuti dengan antusias oleh seluruh kepala sekolah, guru, pegawai dan security yang berada di kompleks Merdeka. Ketua pengurus Yayasan Swasti Sari Keuskupan Agung Kupang, Romo Arki Manek, Pr bersama sekretaris dan bendahara YASWARI, pada kesempatan itu, menyampaikan dengan baik dan teliti berkaitan maksud dan tujuan pertemuan itu. Tema pertemuan ini adalah Berjalan Bersama Meningkatkan Mutu Pendidikan Persekolahan Merdeka Yayasan Swasti Sari K.A.K. Dalam sapaan pembukanya, Romo Arki menyampaikan bahwa pendidikan yang bermutu itu lahir dari berjalan bersama.
"Ini merupakan angin segar bagi kalian. Karena untuk pertama kalinya, kita dapat bertemu. Sebuah momen langkah untuk bertemu, baik itu sebagai guru dan pegawai di sekolah masing-masing maupun antar sekolah di kompleks Merdeka. Tetapi lebih jauh dari itu, momen ini merupakan sebuah perjumpaan sebagai suatu dimensi kekeluargaan di kompleks Merdeka", ungkap Romo di awal pertemuan. Setelah itu, Romo Alan, selaku bendahara Yayasan menyampaikan hal-hal finansial YASWARI, jumlah masuk dan keluar keuangan, sumber dan pendapatan serta tunggakan-tunggakan yang terjadi pada tahun ajaran sebelumnya.
Pada sesi selanjutnya, para guru dan pegawai diberikan kesempatan untuk bertanya. Bagai umpan yang dibuang kepada ikan-ikan di sungai, begitu pun para guru sangat antusias untuk bertanya, sebab menurut mereka ini merupakan kesempatan emas untuk menyampaikan keluh-kesah mereka kepada Yayasan. Banyak hal telah dibahas, dipertanyakan, dijawab dan dicari solusinya pada pertemuan itu. Lebih jauh dari itu, berjalan bersama harus melekat pada beberapa aspek, yaitu: pendekatan holistik, pengajar yang berlandaskan pelayanan, pengembangan identitas Katolik (memperkenalkan ajaran dan tradisi agama Katolik serta mengintegrasikannya dalam kehidupan sehari-hari), kepedulian terhadap lingkungan sosial, keterbukaan dan dialog serta misi pendidikan Katolik.
"Pada intinya bahwa tema berjalan bersama harus mencerminkan pembimbing yang taat aturan serta mampu menciptakan apa yang disebut budaya mutu. Dengan demikian, maka akan nampak buah dari berjalan bersama, yaitu bonum commune (kebaikan bersama). Kita harus menjadi penggerak dan aktor utama dalam pendidikan. Secara rohani kita menyebutnya sebagai panggilan untuk mengabdi. Kita harus menjadi rasul Gereja yang berkarya dalam dunia pendidikan. Maka, sebagai rasul kita harus belajar dari Sang Guru Sejati, yaitu Kristus sendiri", tegas Romo diakhir pertemuan. (20/07/24).
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H