Lihat ke Halaman Asli

Menabur Toleransi di Bulan Suci

Diperbarui: 14 April 2022   07:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Toleransi. Sumber: brainly.live

Bulan suci Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah. Bulan dimana semua umat muslim berlomba berbuat baik. Bulan dimana semua orang berlomba memperbanyak ibadah. Karena bulan ini berlimpah pahala yang diberikan Allah SWT kepada seluruh umatnya. Namun, berbagai macam fasilitas yang telah diberikan tersebut, apakah bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh kita semua? 

Apakah kita benar-benar bisa memperbanyak perbuatan baik, ibadah dan lain sebagainya? Atau kita justru tidak mempedulikan dan sibuk mencari kesalahan dan kejelekan, seperti yang banyak dilakukan oleh kelompok radikal?

Mari kita introspeksi. Pada dasarnya manusia mempunyai sifat baik dan buruk. Seperti dua sisi mata uang yang saling berdampingan, kedua sifat tersebut bisa saling mendominasi, jika kita tidak bisa mengontrol dan mengendalikannya. 

Jika sifat baik yang bisa dikendalikan, tidak ada soal. Yang menjadi persoalan jika sifat negative itu yang mendominasi, dan sulit dikendalikan. Terlebih provokasi radikalisme di media sosial masih masif terjadi. Ujaran kebencian yang sengaja disebarkan masih terus terjadi hingga saat ini. Akibatnya masyarat yang tidak punya literasi yang cukup, akan mudah menjadi korban provokasi.

Ironisnya, materi provokasi seringkali menyentuh hal sensitif seperti SARA. Padahal kita punya pengalaman buruk terkait provokasi SARA ini. 

Antar sesama bisa saling caci, saling bertikai, bahkan bisa saling membunuh satu dengan lainnya. Sadar atau tidak, saat ini banyak sekali orang saling mencaci, saling membenci hanya karena persoalan perbedaan. Entah itu perbedaan pandangan politik ataupun perbedaan keyakinan.

Persoalannya adalah ketika berbeda dianggap sesat, bahkan kafir. Padahal, perbedaan bukanlah hal yang baru bagi negeri ini. Karena Indonesia memang dibangun diatas akar keberagaman. Ketika Islam dibawa masuk ke Jawa oleh Wali Songo ketika itu pun, juga sudah terjadi keberagaman. 

Masyarakat ketika itu sudah banyak yang memeluk Hindu, Budha dan aliran kepercayaan. Namun, tidak ada yang memusuhi Islam yang baru masuk. Begitu pula dengan Islam juga tidak ada unsur paksaan. Semuanya bisa berdampingan hingga saat ini.

Seiring dengan masifnya provokasi di dunia maya, membuat banyak orang menjadi tidak toleran. Antar sesama tidak saling percaya dan mudah sekali saling menyakiti. Sudut pandangnya adalah dirinya dan kelompoknya yang benar, karena dianggap bagian dari mayoritas.

 Sementara pihak yang berbeda meski minoritas, harus mendapatkan perlakuan yang dianggap menegakkan agama. Ironisnya, perlakuan yang dimaksud justru menyalahi yang dianjurkan oleh agama. Misalnya, ketika puasa dulu masih seringkali ormas yang mengatasnamakan Islam melakukan sweeping warung makanan yang tetap buka. 

Praktek tersebut pada dasarnya bertentangan dengan ajaran agama. Esensi puasa adalah mengendalikan hawa nafsu. Jika ketika puasa justru menunjukkan tidak terkendalinya hawa nafsu, tentu hal ini menjadi bertolak belakang.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline