Lihat ke Halaman Asli

Supartono JW

Pengamat pendidikan nasional, sosial, dan pengamat sepak bola nasional. Ini Akun ke-4. Akun ke-1 sudah Penjelajah. Tahun 2019 mendapat 3 Kategori: KOMPASIANER TERPOPULER 2019, ARTIKEL HEADLINE TERPOPULER 2019, dan ARTIKEL TERPOPULER RUBRIK TEKNOLOGI 2019

Teater Tupat (SDN Tugu 4) dan Regenerasi Teater Indonesia

Diperbarui: 21 Juni 2024   22:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Supartono JW


Catatan kecil, sebelum Teater Tupat (SDN Tugu 4) pentas produksi ke-2, Sabtu, 22 Juni 2024, di GOR Gumilang, Depok, Jawa Barat.

Layak masuk MURI

Sepengetahuan saya, selama puluhan tahun menekuni kesenian teater di berbagai SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, di Teater saya sendiri, menjadi aktor di Teater Koma, menjadi pengamat pendidikan nasional dan sosial, bekerja sebagai Konsultan Pendidikan Independen, inilah satu-satunya sekolah negeri, yang menyelenggarakan ekstrakurikuler teater dengan peserta kelas 1 sampai kelas 6, digabung menjadi satu, bernama Teater Tupat (Tugu Empat).

Bila Museum Rekor Indonesia (MURI) mau mencatat, Teater Tupat layak masuk MURI.

Bersyukur, bangga, teater "berat"

Saya bersyukur, senang, dan bangga, dapat menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk regenerasi teater di Indonesia melalui SDN Tugu 4.

Mementaskan pertunjukan teater adalah berat. Butuh waktu, proses latihan yang intensif, menguras pikiran dan hati. Apalagi bagi anak-anak usia dini yang sebelumnya sama sekali tidak tahu apa itu teater. Mendidik, melatih, membina, hingga merawat hati dan pikiran mereka agar mulai mencintai dan mengakrabi teater, bagi siapa pun yang mengampunya, butuh suplemen ISEAKI (intelektual, sosial, emosional, analisis, kreatif-imajinatif, iman) yang mumpuni, agar peserta didik "tidak kabur" sebelum pentas.

Orang Tua peserta didik yang sudah tahu atau belum tahu teater saja, ada yang berpikir, bila putra/putrinya kebagian peran yang mereka anggap kecil/sepele/figuran/dan sejenisnya, maka akan kecewa. Tidak memahami bahwa peranan sekecil apa pun, itu sama dengan peranan utama. Saling melengkapi dan keberadaannya dalam pertunjukan, nilai sama. Salah satu saja tidak ada, pertunjukan akan pincang, tidak berjalan sesuai target, dll.

Jaga, rawat pikiran dan hati

Peminat teater di sekolah ini luar biasa, tercatat ada 96 peserta didik dari kelas 1 sampai kelas 6. Karena itu, hati dan pikiran mereka, termasuk para orangtuanya wajib "dijaga dan dirawat" agar kesenian teater terus dapat dilestarikan. Khususnya di SDN Tugu 4, Depok, Jawa Barat.

Setelah produksi pertama di semester 1, kini di semester 2, produksi kedua adalah "Dongeng Jaka Tarub dan 7 Bidadari" yang diikuti oleh 48 peserta didik. Seluruh dari 48 peserta didik, naik panggung, alias menjadi pemain. Semua saya sebut sebagai pemain utama. Peran sekecil apa pun, adalah "Peran Besar".

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline