Sejak Ayah pergi, aku sering bicara sendiri, menempelkan hal-hal yang aku lakukan kepada dirinya. Seumpama:
Jika sore datang, sedang aku minum kopi dan goreng pisang, maka kubergumam, "Dulu, Ayah sangat menyukai camilan ini, yang ranum dan harum."
Jika singgah di rumah makan, pada dua pertiga nasi yang telah dihabiskan, aku tersenyum, "Pernah aku dan Ayah, sebelah menyebelah duduk di sini."
Jika kehujanan saat menuju kepulangan, aku seakan melihat wajah Ayah, "Cepat mandi, baluri badanmu dengan minyak angin."
Aku bukan tidak siap kehilangannya, tapi banyak hal yang takbisa lagi aku ulang bersamanya.
Air Tawar, Padang, 2 September 2024Se
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H