Lihat ke Halaman Asli

Seno Rocky Pusop

@rockyjr.official17

Utopia Bumi Cendrawasih adalah Surga yang Hampa

Diperbarui: 2 Mei 2024   10:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambar. Ilustrasi Utopia (The Roundhouse, STAR 4)

Saya sering bolak balik membaca buku tentang harapan dan kenyataan, tak banyak kata-kata indah yang membuat saya bahagia. Saya hanya menemukan satu kata yang membuat saya takjub bagaimana memahami arti hidup ideal. Saya penasaran, dan mencoba memahami sebuah kata yang maknanya sangat luas dan menarik.

Tempat dimana kekhawatiran lucut, tidak ada air mata dan kesedihan, masalah dan beban lenyap. Tempat inilah yang disebut "Utopia" saya selalu merindukan keindahan dan ketenangan dunia ini, perasaan tidak ada yang salah, setidaknya aku bisa merasa bahagia dan tersenyum. 

Jika dunia ini ada, mengapa kita tidak bisa merasakannya? Jika hampa, mengapa kita tidak bisa menciptakan dunia yang ideal? Apakah Utopia sebuah kegagalan atau bahkan mungkin terjadi?

Dari sini saya memahami betapa manusia mendambakan kehidupan di dunia yang lebih baik, damai, sangat adem, dan tenteram, penuh dengan keindahan, kemakmuran dan kebahagiaan tiada tara.

Dunia seperti ini, tentunya tidak jauh dari kita, hanya saja manusia seolah menciptakan ruang dan waktu tampak sangat jauh dari jangkauan kita.

Utopia adalah tempat paling ideal, surga dimana manusia hidup selaras dengan alam. Tempat ini adalah masyarakat teladan dengan segala yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup dan bahagia selamanya. 

Istilah "Utopia" diciptakan oleh penulis dan filsuf Sir Thomas More dalam bukunya yang berjudul "Utopia" adalah sebuah karya fiksi dan satire sosio-poitik yang diterbitkan dalam bahasa latin pada tahun 1516.

Secara etimologi, Outopos berasal dari kata Yunani Ou "tidak" dan Topos "tempat" yang berarti "tidak ada tempat". More mendirikan masyarakat yang tampaknya ideal di sebuah pulau dan memberinya nama "Utopia". 

Sejak itu, Utopia menjadi semacam singkatan untuk tempat yang ideal. Meskipun More tentu mengetahui dan menyadari bahwa tempat yang ditulisnya itu hanyalah khayalan belaka.

Memang "tidak ada tempat" di bumi dimana manusia hidup bersama dalam kedamaian sejati, hidup bebas dari berbagai belenggu. Permasalahan konkrit yang bisa kita rasakan antara lain kemiskinan, kekerasan, perang, kelaparan, penyakit, tangis dan ratapan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline