Lihat ke Halaman Asli

Shidqi Surya Haikal

Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran

Kiprah Kaum Perempuan dalam Pergerakan Nasional Indonesia, dari Kartini hingga Siti Manggopoh

Diperbarui: 4 Juli 2024   17:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Dalam rentang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, peran kaum perempuan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam memperkaya dinamika pergerakan nasional. Meski pada awalnya menghadapi banyak keterbatasan, diskriminasi, serta stigma dari adat istiadat patriarki yang kental, namun semangat dan kegigihan para tokoh perempuan terdahulu berhasil membawa cahaya kemajuan dan kesetaraan bagi kaumnya. Dengan penuh tekad, mereka berjuang untuk lepas dari belenggu kebodohan, membebaskan diri dari belenggu budaya yang merendahkan, hingga terlibat dalam perjuangan meraih kemerdekaan dari penjajah. Peran perempuan dalam pergerakan nasional menjadi bukti nyata kontribusi mereka dalam mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia.

Awal Kebangkitan Perempuan Indonesia

Pada awal abad ke-20, ketika gelombang nasionalisme mulai bergolak di Nusantara, lahir sejumlah tokoh perempuan yang menjadi pelopor gerakan emansipasi dan kemajuan kaumnya. Salah satu figur terkemuka adalah Raden Adjeng Kartini yang melalui tulisan-tulisannya mendobrak tembok diskriminasi dan memperjuangkan pendidikan serta kesetaraan bagi perempuan Indonesia. Kartini menginspirasi banyak perempuan lain untuk maju dan bersuara, sehingga bermunculan organisasi-organisasi seperti Putri Mardika, Kartini Fonds, Kerajinan Amai Setia, dan lainnya yang berfokus pada peningkatan derajat wanita.

Melalui organisasi-organisasi ini, para tokoh perempuan berupaya mengangkat citra dan keberadaan kaumnya di masyarakat. Mereka memperjuangkan hak berpendidikan, meningkatkan keterampilan hidup, mendorong kemandirian ekonomi, hingga memperjuangkan persamaan hak dan kedudukan dengan laki-laki. Selain itu, mereka juga berperan menyuarakan gagasan kemajuan bangsa Indonesia dan turut menggerakkan arus pergerakan nasional melalui penerbitan media massa, diskusi, hingga aksi-aksi nyata di lapangan.

Kongres Perempuan Indonesia dan Perjuangan Politik

Seiring meluasnya pergerakan nasional pada dekade 1920-an, peran perempuan Indonesia semakin meningkat tidak hanya di bidang sosial-budaya, tetapi juga politik. Pada 1928, diadakan Kongres Perempuan Indonesia Pertama yang membentuk Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) sebagai wadah perjuangan untuk menyuarakan isu-isu krusial terkait hukum perkawinan, perlindungan perempuan dan anak, pencegahan perkawinan anak, serta pendidikan bagi anak-anak perempuan.

PPPI yang kemudian berganti nama menjadi Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia (PPII) menjadi motor penggerak utama dalam memperjuangkan agenda-agenda emansipasi wanita. Kongres-kongres rutin diadakan untuk membahas isu-isu tersebut, disertai penerbitan surat kabar Istri sebagai media penyebarluasan gagasan. PPII bahkan mendirikan studi fonds untuk membantu meringankan biaya pendidikan bagi para gadis tidak mampu. Selain PPII, organisasi wanita lainnya seperti Wanita Taman Siswa, Aisyiyah, PIKAT, dan lainnya juga aktif melakukan pemberdayaan melalui pendidikan, kursus keterampilan, hingga penyuluhan ke masyarakat.

Memasuki dekade 1930-an, kegiatan dan peran wanita Indonesia dalam ranah publik semakin menguat. Mereka melebarkan sayapnya ke berbagai bidang seperti industri, ekonomi, hukum, sosial, hingga politik. Bahkan, organisasi dengan haluan politik seperti Istri Sedar turut muncul. Wanita Indonesia mulai dilibatkan dalam pemilihan keanggotaan Dewan Kota pada 1938 dan menuntut hak pilih aktif dalam pemilihan Dewan Rakyat. Mendekati akhir era kolonial Hindia Belanda, para tokoh wanita terdepan semakin terlibat dalam pergerakan kemerdekaan melalui organisasi-organisasi seperti Gabungan Politik Indonesia (GAPI).

Perjuangan Lokal: Kisah Siti Manggopoh

Sementara perjuangan perempuan di tingkat nasional terus bergulir, di berbagai daerah juga muncul tokoh-tokoh perempuan yang berjuang melawan ketidakadilan kolonial. Salah satu contoh yang menonjol adalah kisah Siti Manggopoh dari Minangkabau, Sumatra Barat. Perjuangan Siti Manggopoh menunjukkan bahwa semangat perlawanan terhadap kolonialisme bisa muncul dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk perempuan di pedesaan.

Siti Manggopoh, yang bernama asli Siti Hawa, lahir di Nagari Manggopoh, Sumatra Barat. Ia tumbuh dalam budaya matrilineal Minangkabau yang sangat menghargai peran perempuan dalam masyarakat. Siti dikenal sebagai wanita yang cerdas, berani, dan sangat peduli terhadap keadaan sekitarnya, terutama ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline