Lihat ke Halaman Asli

Satya Putra

Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Sekolah Gajahwong, antara Mengais Sampah dan Pendidikan yang Diperjuangkan di Kampung Ledok Timoho

Diperbarui: 28 April 2021   11:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

YOGYAKARTA - Daerah Istimewa Yogyakarta sudah dikenal dengan kota Pelajar sejak lama. Namun, dibalik kata indah tersebut. Tidak semua sekolah bisa dikatakan memiliki fasilitas yang lengkap, pengajar yang professional, bahkan sekolah formal yang memiliki standar sesuai dengan arahan dari Menteri Pendidikan.

Sekolah Gajahwong, terletak di kampung Ledok, Timoho asal Yogyakarta ini, merupakan sebuah sekolah gratis untuk memfasilitasi anak - anak Paud. Tak disangka, mereka tidak dapat sekolah layaknya anak - anak seusia mereka yang dapat belajar dilingkungan yang nyaman, ramah, dan mendukung.

Dokpri

Latar Belakang

Keseharian orang tua mereka, bekerja sebagai pemulung. Tak heran, untuk biaya makan saja sudah sulit. Apalagi masih harus membiayai anaknya untuk sekolah. Bisa dihitung jari anak - anak yang dapat sekolah untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Namun, notabene adalah tidak sekolah, lebih mengutamakan untuk mencari kebutuhan kehidupan sehari - hari.

Maka dari itu, Sekolah Gajahwong hadir sejak tahun 2009 untuk membantu dan memfasilitasi anak - anak agar mendapatkan pendidikan yang layak. Tujuan sederhana membangun sekolah yaitu untuk memutus rantai kemiskinan sekaligus mencerdaskan pendidikan untuk negeri.

Dokpri

Pengurus Sekolah Gajahwong

“Bagi saya, saat ini anak - anak membutuhkan pendidikan yang layak. Walaupun orang tua mereka kesulitan untuk mencari biaya, bukan berarti kehilangan pendidikan. Saya bersama rekan - rekan yang lain berusaha untuk mengajar dan memberikan variasi pembelajaran yang menarik untuk anak - anak agar kedepan bisa memiliki dasar dari fungsi pendidikan” ungkap ibu Herlitha Jayadianti, selaku koordinator dari Sekolah Gajahwong, Sabtu (10/4).

Sampai saat ini, Sekolah Gajahwong belum mendapatkan legal formal perihal pendidikan. Baginya setiap lika - liku kesulitan dalam mengajar bukan menjadi hambatan untuk menyampaikan ilmu. Utamanya adalah tetap sampaikan ilmu walaupun hanya selarik kalimat. Lanjut dari Ibu Herlitha.

Dokpri

Sistematika Belajar

Ruangan untuk belajar bersama anak - anak tidaklah luas. Selayaknya ruangan kelas seperti pada umumnya. Kurang lebih ukuran 4 m x 7 m menjadi pusat pembelajaran bersama. Biasanya anak - anak mulai belajar sekitar jam 8 hingga menjelang siang. Ataupun sore.

Disesuaikan dengan kebutuhan. Biasanya, diajarkan untuk tidak hanya belajar dalam kelas. Melainkan belajar disekitar sungai, tempat beternak, pohon karet dan sebagainya. Tidak ada batasan dalam belajar harus dalam kelas. Semua aspek dipelajari sebagai upaya varasi dalam pembelajaran.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline