Lihat ke Halaman Asli

Iya Oya

Laki-laki

Kegilaan yang Luhur

Diperbarui: 24 Januari 2018   13:14

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber Gambar: askthesheikh.com

Aku makin yakin kalau manusia wajib menjadi gila. Tapi bukan gila sebagaimana orang-orang sakit jiwa. Bukan. Melainkan gila yang luhur.

Lihat saja dalam sejarah. Tengok saja bagaimana nabi Muhammad dan Nabi Isa tak marah ketika dilempari batu? Orang macam apa yang masih bisa berlemah lembut, bahkan ketika diperlakukan begitu? Ketika saya memikirkan sikap para nabi, di situ pula saya mendapatkan suatu tingkat kegilaan yang begitu luhur, mulia, yang jarang digapai orang kebanyakan. Makanya ini beda dengan orang sakit jiwa yang tak bisa mengontrol dirinya, hilang akal sehat, kesadaran, dan seringkali bertindak emosional. Kegilaan yang luhur, adalah kebalikan dari kegilaan yang sudah disebutkan tadi.

Tapi barangkali kebanyakan orang saat ini sudah sedemikian emoh untuk menggilakan dirinya. Mereka lebih memilih menjadi orang waras yang selalu mengikuti gerak kehidupan dan menjadi manusia-manusia --yang katanya-- waras. Saya tak tahu apakah memang tak ada kebosanan dalam menjalani hidup yang begitu itu atau tidak. Karena saya memang selalu berusaha untuk lepas dari hal semacam itu, tapi tanpa meninggalkan tugas eksistensial saya sebagai khalifah di bumi.

Mereka, para nabi-nabi itu, bukanlah orang-orang biasa. Maksudnya, mereka sebenarnya manusia biasa tapi tak biasa. Dalam aspek intelektual, spiritual dan emosional, mereka tidak sebagaimana manusia pada umumnya. Sebenarnya manusia biasa macam kita juga bisa mendekati tingkat kegilaan eperti mereka. Jalannya, tak lain adalah dengan membersikan diri dari sifat kesetanan dan perilaku kebinatangan yang memang selalu melekat di dalam diri. Jangan katakan dua hal itu sebagai sifat bawaan, karena pada asal mulanya kita adalah makhluk suci yang kemudian berhadapan dengan kekotoran-kekotoran dalam dunia yang rancu ini.

Kalau mau lebih detil lagi, jalannya ada di lagu Tombo Ati. Syari'at itulah tarikat. Dan itulah jalan menuju kegilaan yang luhur yang ujungnya bermuara pada persoalan akhlak.

Tapi saya kira, kalau kita bicara secara universal, agama apapun pasti punya metodologi untuk mensucikan diri. Walaupun orientasinya mungkin tidak secara langsung kepada Sang Pencipta, sebagaimana orientasi utama dalam Islam dengan cara intens memuji Allah, berusaha selalu bertakwa/mematuhiNya, berpuasa, memperbanyak sholat sunah, melakukan perbuatan-perbuatan baik yang diridhai Allah, dan tidak hanya sekedar berdiam dan mengasingkan diri. Siapapun orangnya dan apapun agamanya pasti akan membawa dirinya pada kebersihan, kesucian, sebagaimana fitrah tiap manusia, kalau saja dia sadar akan dirinya sendiri. Tak usah katakan orang-orang semacam itu sebagai munafik karena menjauhi keburukan maupun kemunafikan itu ada pada diri setiap manusia. Tapi kemunafikan (dan kemusyrikan, dalam konteks Islam) tidak seharusnya dipelihara di dalam diri. Orang macam apa yang memelihara keburukan di dalam dirinya? Hanya orang-orang yang tak tahu diri; yang tak mengenal dirinya dan tak berusaha untuk kembali kepada fitrah dirinya.

Kegilaan semacam itu pun tidak bisa dicapai kalau seseorang masih terikat dalam kepentingan-kepentingan dunia. Kepentingan yang sebenarnya tidak begitu penting tapi dipenting-pentingkan. Karena sebenarnya kepentingan yang paling penting tadi pun tertutup oleh lapisan debu yang itu juga menutupi kesucian diri manusia. Bukannya hal-hal eksternal juga akan mempengaruhi internal diri kita? Itulah yang menutupi kegilaan manusia yang luhur.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline