Lihat ke Halaman Asli

Sari Oktafiana

A mother of five kids who loves learning

Dongeng Tentang Padi, Dewi Sri dan Penghormatan terhadap Alam

Diperbarui: 2 Desember 2017   23:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Patung Dewi Sri (kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Hal yang selalu saya ingat pada masa kanak-kanak, ketika tidak menghabiskan makanan, Ibu selalu menasehati agar menghabiskan semua nasi tanpa tersisa.  

Menurut ibu, bila tidak dihabiskan maka nasinya akan menangis atau bahkan hewan peliharaan yang kita sayangi akan mati. Cerita yang melegenda yang tentunya masih saya ingat itu diperkuat ketika dalam kisah boneka Si Unyil yang ditayangkan oleh TVRI pernah menarasikan hal yang sama, bahwa kita harus menghabiskan nasi yang kita makan, kalau tidak nasinya akan menangis karena kita telah menyia-nyiakannya. 

Kisah ini begitu tergiang-ngiang sampai sekarang dan rupanya sangat efektif untuk mempengaruhi saya agar berusaha memakan nasi yang telah diambil tanpa tersisa.

Nasi yang berasal dari beras yang telah dimasak, dari padi yang telah dipanen dalam kehidupan masyarakat agraris Jawa, Indonesia dan bahkan Asia Tenggara memiliki peran yang sangat penting. Narasi tentang padi yang berkaitan erat dengan budaya, agama, ekonomi, pertahanan, politik, lingkungan dan identitas, menempatkan padi sebagai hal yang signifikan bagi kehidupan masyarakat. 

Bagi orang Indonesia, kecuali Indonesia Timur, padi bukan hanya sekedar komoditas dan makanan pokok tetapi adalah konteks segala aspek kehidupan yang melingkupi manusia dan bagaimana manusia berhubungan dengan alam.

Kisah di Myanmar, pada era Kerajaan Bagan di abad 11-13 masehi, menempatkan padi sebagai hal yang sangat penting, bagaimana pengaruh Agama Buddha yang berkembang pesat ditopang dari hasil pertanian padi yang telah dihasilkan oleh penduduk. Kuil-kuil banyak dibangun dari hasil perdagangan padi oleh penduduk, sehingga relasi dan pengaruh antara agama dan pertanian padi begitu kuat.

Dalam konteks Jawa dan Bali,  legenda tentang padi dan Dewi Sri menempati peran yang cukup sentral. Di dalam rumah tradisional jawa, terdapat tempat secara khusus yang biasanya disebut senthong tengah (bagian tengah bangunan rumah) yang merupakan tempat yang dipersembahkan untuk menghormati Dewi Sri. Bagi orang Jawa dan Bali, Dewi Sri identik dengan padi yang merupakan lambang kesuburan. 

Masyarakat Jawa terutama masyarakat agraris, Dewi Sri dipercaya sebagai sosok pelindung yang dapat menjaga kehidupan dan keselamatan masyarakat melalui padi. Sehingga berbagai macam ritual dipersembahkan untuk menghormati Dewi Sri.

Dari kisah tentang legenda padi yang saya kutip dari asianfolktales.unescoapceiu.org: teacher's guide,khususnya dongeng dari Indonesia, mengenai Dewi Sri, Dewi Padi sebagai dongeng dari Jawa. Bahwa pada jaman dahulu kala di Pulau Jawa tidak terdapat tanaman padi. Dalam dongeng itu dikisahkan bahwa orang Jawa hanya menanam singkong dan memakan singkong sebagai makanan pokoknya. 

Padi merupakan tanaman yang hanya terdapat dan dimakan di khayangan. Lalu pada suatu hari ketika, Dewa dan Dewi turun dari khayangan ke bumi, mengijinkan seorang pemuda dari bumi untuk mengunjungi khayangan dan melihat tanaman padi. Selama di khayangan pemuda tersebut terpesona dengan bau harum nasi yang ditanak dan lalu dia berharap dapat menyicipi nasi yang begitu harum tersebut. 

Untuk mewujudkan keinginannya, pemuda tersebut menghadap Dewi Sri sebagai Dewi Padi agar diijinkan untuk tinggal lebih lama di khayangan dan diberikan kesempatan untuk belajar menanam padi. Dewi Sri lalu mengijinkannya untuk tinggal lebih lama dan mengajarinya bagaimana menanam padi. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline