Lihat ke Halaman Asli

Samurai Jagoan

Tukang Makan Enak

Kali Pertama Berpameran

Diperbarui: 24 Juni 2015   09:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Mengingat-ingat kejadian masa lalu yang membahagiakan memang sungguh pekerjaan yang menyenangkan. Kali ini, saat gak bisa tidur disebuah penerbangan pagi menuju jambi memori saya tiba-tiba teringat pengalaman pertama kali saya berpameran di jakarta di ajang International Franchise Ekspo.

Berawal dari iklan di milis sebuah komunitas entrepreneur yang menawarkan kapling gratis di pameran itu karena komunitas tadi mendapat fasilitas beberapa kapling gratis dari sebuah departemen pemerintah. Tentu saja tawaran ini gak saya sia-siakan saya langsung mendaftar di ajang pameran tadi. Saya mengusung Wenmit pecel bento saya.

Asiknya saat itu saya sama sekali gak punya uang kecuali untuk berangkat ke jakarta pulang pergi. Selain itu saya juga gak punya team yang saya bisa ajak berpameran di jakarta. Kalopun ada saya juga merasa gak akan mampu membiyayai team saya berangkat ke jakarta, akomodasi dan sebagainya untuk keperluan mereka selama berpameran yang memakan waktu kurang lebih 3 hari.

Waktu semakin mepet mendekati batas waktu pameran sementara uang pinjaman pun belum kunjung cair pula, situasi ini yang membuat saya memberanikan diri untuk mengirimkan inbox penawaran kerjasama kepada kawan-kawan dan senior yang saya kenal lewat media facebook.

Saya lupa berapa orang kawan dan senior yang saya tawari proposal kerjasama tapi yang jelas dari sekian banyak yang saya inbox hanya ada 1 orang senior yang merespon tawaran saya. Beliau menyanggupi permintaan penawaran saya setelah kami berdialog cukup lama baik via telpon maupun sms.

Kesepakatannya adalah beliau bersedia menjadi pengelola di pameran tersebut baik secara permodalan maupun secara penyediaan team yang akan berjaga di sana. Beliau hanya mengajukan 1 syarat yaitu agar bisa 'mendomplengkan' barang dagangannya di stand pameran saya yang mengusung brand Wenmit Pecel.

Tentu saja tanpa pikir panjang saya meng-iya-kan syarat yang beliau ajukan. Buat saya adalah saya bisa berpameran bahkan ketika saya gak punya sarana dan prasarana.

Langkah selanjutnya adalah kami mengkomunikasikan secara terus-menerus tentang teknis 'pendomplengan' teraebut agar tidak melanggar peraturan pameran dan agar kami berdua tidak ada yang dirugikan.

Akhirnya ketemulah kesepakatan rencana kerjasma 'pendomplengan' tersebut yaitu pada saat staf penjaga stand membagikan brosur maka yang dibagikan bukan hanya brosur saya melainkan juga brosur dari beliau yang sudah di steples jadi 1 rangkaian. Lantas buat pengunjung pameran yang tertarik dan bertanya-tanya tentang peluang usaha Wenmit Pecel mendapatkan souvenir berupa sepasang sandal yang merupakan produk bisnis dari kawan senior saya tersebut.

Semua kesepakatan itu kami lakukan hanya memanfaatkan media komunikasi saja tanpa pernah bertatap muka sebab saya berada di surabaya dan beliau berada di jakarta.

Ketika hati H saat berpameran tiba saya datang dan ikut mengawal pameran tersebut, semua memang sudah disiapkan oleh beliau sesuai kesepakatan yang sudah kami sepakati bersama. Dan selama pameran pun apa yang kami sepakati itu kami lakukan dengan lancar dan tanpa hambatan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline