Lihat ke Halaman Asli

Salma FaidatunNisa

seorang mahasiswa UIN MALANG smt 6 jurusan tadris bahasa inggris

Aktualisasi Nilai-nilai Pondok Pesantren dalam Menghadapi Kenakalan Remaja

Diperbarui: 17 Mei 2024   09:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok. pribadi


Sebuah seminar parenting untuk memerangi kenakalan remaja diadakan di SMP Islam Annuriyah Malang pada hari Rabu tanggal 27 Maret 2024. Acara ini ditujukan untuk siswa SMPI Annuriyah sebagai peserta dengan judul "Aktualisasi Nilai-Nilai Pondok Pesantren dalam Menghadapi Kenakalan Remaja."Acara ini menjadi lebih hidup dengan kehadiran MC Lutfiah Hamidah dan Siti Aisyah yang penuh semangat, bertugas sebagai pembawa acara dan moderator yang energik. 

Mereka membuka acara dengan semangat tinggi, menyambut para peserta dengan antusiasme yang menular, menciptakan suasana yang positif dan produktif.
Mauliyatul Mukaromah, S.Psi, seorang pakar psikologi, seorang alumnus Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang diundang sebagai pemateri.Beliau juga seorang Anggota LSO OASIS (konseling) dan menjabat sebagai wakil ketua LSO.

Dengan keahliannya,Pemateri memberikan pemahaman mendalam tentang masalah kenakalan remaja dan berbagi strategi efektif dalam mengatasinya, dengan memanfaatkan nilai-nilai yang terdapat dalam lingkungan pondok pesantren.

Pemateri memulai dengan memberikan stimulus yaitu dengan memberikan lembaran kertas pada peserta dan meminta peserta untuk menuliskan kenakalan apa yang telah dilakukan dan peserta diharapkan menuliskan dengan sejujur jujurnya dan tidak diberi nama (anonymous). Pemateri kemudian membaca setiap kertas yang diberikan pada peserta . Pemateri menyimpulkan bahwa kenakalan yang dilakukan oleh peserta yaitu siswa SMPI Annuriyah masih sewajarnya kenakalan di pondok pesantren.

Pemateri masuk pada sesi penyampaian materi dan membahas tentang apa saja faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja.Pemateri menyebutkan faktor internal bisa mencakup perubahan hormonal, perubahan emosi, dan konflik identitas remaja, sementara faktor eksternal bisa mencakup tekanan teman sebaya, lingkungan keluarga yang tidak stabil, dan pengaruh media yang negatif.

Pemateri juga memberikan contoh dari kenakalan remaja yang umum terjadi, seperti penyalahgunaan narkoba atau alkohol, kenakalan seksual, tindak kekerasan seperti perkelahian atau perampokan, vandalisme, dan perilaku merusak lainnya.

Selanjutnya, pemateri memberikan pemahaman karakter menggunakan pondok pesantren sebagai model, pemateri dapat berbagi strategi konkret untuk mengembangkan karakter yang kuat dan moralitas yang baik pada remaja. Pertama, strategi tersebut mungkin termasuk pembentukan kepribadian yang tangguh melalui pengenalan dan penguatan nilai-nilai seperti kesederhanaan, kedisiplinan, dan ketabahan, yang merupakan bagian integral dari kehidupan di pondok pesantren.

Kedua, penanaman nilai-nilai moral akan menjadi fokus utama, dengan memperkuat pemahaman remaja tentang pentingnya integritas, kejujuran, dan empati dalam interaksi sehari-hari.

Selain itu, pengembangan keterampilan sosial dan emosional yang sehat akan didorong melalui kegiatan kolaboratif, pembelajaran aktif, dan pendekatan pembinaan yang mendalam.

Dengan demikian, remaja akan didorong untuk mengembangkan keterampilan komunikasi yang efektif, pemecahan masalah yang konstruktif, dan kemampuan untuk berempati dan memahami perasaan orang lain, sehingga memperkuat ikatan sosial mereka dan meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka secara keseluruhan.

Terakhir, pemateri menyampaikan dan menegaskan pentingnya peran orang tua, guru, dan masyarakat dalam mencegah dan mengatasi kenakalan remaja. Dalam presentasinya, dia mungkin menyoroti bahwa orang tua merupakan sosok yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter dan perilaku anak-anak mereka. Oleh karena itu, orang tua perlu terlibat secara aktif dalam mendukung dan membimbing remaja menuju perilaku yang positif dan produktif. Selain itu, peran guru juga sangat penting dalam memberikan pendidikan yang holistik, termasuk pembinaan moral dan sosial kepada para siswa.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline