Sebelum dimuliakan oleh ajaran dan paham keagamaan, tiap kelahiran adalah peristiwa luar biasa, mukjizat, dalam semua tradisi dan sejarah peradaban manusia. Mukjizat bagi yang lahir, yang melahirkan dan juga orang-orang terdekat dengan sang bayi.
Mungkin karena itulah sebagian besar orang, nggak peduli beragama atau atheis, kaya ataupun miskin, tua-muda, semua merasa berkepentingan dengan hari lahirnya, dan umumnya menikmati ketika merayakan atau mengenang hari lahirnya.
Sebagai catatan, di kalangan orang Barat, hari lahir hampir "wajib" dirayakan, terutama karena pertimbangan bahwa hari lahir itu tak berulang. Jika tahun ini merayakan ulang tahun ke-50, misalnya, itu hanya terjadi satu kali saja. Sebab tahun depannya, angkanya sudah menjadi ke-51 dan begitu seterusnya.
Jika hari ini (12 Rabiul-awwal 1442H), Anda kebetulan merayakan Maulid Nabi, lebih sebagai penghormatan dan mengenang tentang "kelahiran yang melahirkan" banyak hal. Bahkan jikapun Muhammad diposisikan sebagai manusia biasa (bukan sebagai Nabi), kelahirannya sangatlah layak dirayakan.
Bahwa ada perbedaan dalam soal tata cara dan tradisi merayakannya, itu soal lain.
Salam rindu dan taslim ta'zhim kepadamu wahai Sang Nabi dan keluargamu juga jajaran shahabat dan pengikut-pengikutmu.
Syarifuddin Abdullah | Den Haag, 29-10-2020M/ 12-03-1442H
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H