Lihat ke Halaman Asli

Sabda Hartono

hobbyist elektronika

Melihat Gerhana Matahari dengan Aman

Diperbarui: 20 April 2016   15:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Corona terlihat saat gerhana matahari total"][/caption]

Kemarin seorang teman saya datang ke rumah. Terjadilah percakapan antara saya (Hartono) dan teman saya (Saeri)

S:"Sedang sibuk buat apa, bang!"

H:"Sedang membuat "teleskop" untuk melihat gerhana matahari, sebentar lagi, tanggal 9 Maret akan ada gerhana matahari total (GMT) di sebagian wilayah Indonesia, sudah tahu?"

S:"Sudah, bang! Dari running text televisi saya sudah tahu akan terjadi gerhana matahari total 9 Maret 2016"

H:"tidak ingin lihat gerhana matahari?"

S:"Ingin bang, cuma saya tidak punya alatnya, anak saudara sepupu saya (bahasa Jawa = mindoan) buta setelah melihat gerhana matahari 1983!"

H: "Hah? buta gara-gara melihat gerhana matahari total?"

Ternyata melihat GMT dapat menjadi buta bukan isapan jempol, itu terjadi pada mindoan teman saya. Selain itu ada tetangganya yang penglihatannya menjadi berkurang (low vision) setelah melihat GMT.

Di masa kecilnya, teman saya Saeri tinggal di Lamongan, dekat pantai Tanjung Kodok. Tempat ini paling strategis untuk mengamati matahari terbit maupun matahari terbenam. Tidak heran pantai Tanjung Kodok dijadikan pos pengamatan hilal untuk menentukan awal puasa atau Lebaran!

Pada tanggal 11 Juni 1983 pantai Tanjung Kodok dilewati GMT. Tempat inipun ramai sekali dikunjungi oleh tamu dari berbagai negara, karena dianggap strategis untuk mengamati GMT. Televisi Republik Indonesia (TVRI) juga menempatkan kamera dengan segala perlengkapannya untuk siaran langsung GMT dari tempat ini.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline