Lihat ke Halaman Asli

Milenialisasi Pertanian, Rebranding Menuju Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

Diperbarui: 4 Mei 2019   06:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto: Ilustrasi, Sumber: pexels.com

Belakangan ini, diksi milenial (millennial) terus bertebaran di berbagai tulisan, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Seolah naik daun, apalagi sekarang dibumbui "zaman now". Lema ini muncul entah bersifat peyoratif atau bukan, saya pribadi tidak tahu. 

Tapi yang jelas, diksi ini terus menggema. Secara praktis, menyembulnya lema 'milenial', disebabkan struktur penduduk yang didominasi generasi emas milenial (lahir tahun 1980-2000).

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, Indonesia akan menikmati era bonus demografi pada tahun 2020-2035. Pada masa tersebut, jumlah penduduk usia produktif yang rata-rata adalah generasi milenial diproyeksi berada pada grafik tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk Indonesia yang sebesar 297 juta jiwa. Jumlah generasi milenial yang melimpah ini harus dimanfaatkan dengan baik. Sebab jika tidak, bisa saja menjadi musibah demografi.  

Salah satu yang menjadi ancaman saat ini adalah menurunnya sumber daya manusia di sektor pertanian, sementara jumlah penduduk terus meningkat yang artinya kebutuhan pangan meningkat pula. Sejauh ini, untuk seukuran negara agraris, masyarakat kita justru seringkali dihadapkan pada persoalan yang menyangkut 'perut'. 

Bisa dikatakan, kendala seputar isu pangan mulai dari kelangkaan komoditas hingga soal harga bahan pangan yang membubung tinggi, sudah menjadi permasalahan yang 'lumrah' terjadi di kalangan masyarakat kita. Jika kita telusuri akar dari permasalahan ini, sebenarnya ada banyak hal mendasarinya. 

Dan perlu dipahami pula, permasalahan tidak semata-mata terjadi karena menurunnya kualitas agroekosistem, membanjirnya produk impor, stagnasi produksi saja, tetapi menurunnya jumlah petani hingga mandeknya regenerasi petani muda, juga belakangan menjadi masalah serius yang tengah dihadapi pemerintah saat ini. 

Ironi krisis regenerasi petani muda sempat disinggung pada Sidang Terbuka Dies Natalis IPB Ke-54 oleh Presiden Joko Widodo. Sindiran yang dilemparkannya tak lepas dari kegelisahannya menatap pertanian Indonesia di masa depan. Jika kebanyakan lulusan perguruan tinggi berbasis ilmu pertanian di Indonesia (IPB) bekerja di perbankan maupun bidang lain non pertanian. Lantas siapakah yang akan menjadi petani?

Hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) yang dilakukan oleh BPS pada 2018 lalu memperlihatkan bahwa jumlah petani mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2018 tercatat jumlah petani di Indonesia ada sebanyak 27 juta petani, jumlah ini mengalami penyusutan sebesar 4 juta petani jika dibandingkan tahun 2013. Dilihat dari komposisi umurnya, petani-petani Indonesia juga tak banyak yang muda lagi.

Sumber: Sensus Pertanian 2013 dan Survei Pertanian Antar Sensus 2018, BPS

Persentase petani muda (di bawah 45 tahun) mengalami penurunan sekitar 4 persen, sementara pada saat bersamaan proporsi petani tua (di atas 54 tahun) bertambah sebesar 3 persen. Demikian halnya petani tertua usia 65 tahun ke atas juga mengalami peningkatan dari 12,75 persen pada 2013 menjadi 13,81 persen pada 2018. Sebaliknya, petani usia termuda di bawah 25 tahun tidak mengalami peningkatan signifikan alias stagnan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline