Lihat ke Halaman Asli

Rully Novrianto

A Man (XY) and A Mind Besides Itself

Es Dibakar dan Kerikil Ditumis

Diperbarui: 13 Maret 2024   11:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

youtube.com/@SouthChinaMorningPost

Tren kuliner bisa datang dari mana saja, terkadang menggoda selera, terkadang membuat kita mengernyitkan dahi. Nah, beberapa waktu yang lalu dunia maya dihebohkan dengan dua tren makanan yang datangnya dari China: es batu bakar dan tumis kerikil.

Sebagai penggemar berat segala hal yang berhubungan dengan makanan, izinkan saya, Rully, untuk berbagi opini jujur (dan mungkin sedikit skeptis) tentang tren kuliner yang unik ini.

Mari kita mulai dengan es batu bakar. Video yang beredar di media sosial menunjukkan bongkahan es batu dipanggang di atas api terbuka, lalu dibumbui dengan saus dan rempah-rempah. Alih-alih meleleh seperti yang kita duga, es batu ini malah terlihat "dimasak" dan disajikan di piring.

Aneh? Pasti. Menurut penjualnya, ia mendapatkan ide ini saat cuaca sedang terik. Tujuannya memberi sensasi dingin yang menyegarkan dengan cara yang tak terduga. Di luar dugaan ternyata es batu bakar ini disukai oleh para pembeli!

Sebagai orang yang tinggal di daerah tropis, kita semua mengerti betul perjuangan melawan hawa panas. Tapi terus terang, konsep es bakar ini masih sulit saya terima. Mungkin sensasi dingin yang didapat dari es serta saus dan rempah-rempah yang digunakan bisa menurunkan rasa gerah, atau mungkin ini hanya gimmick belaka.

Bagaimanapun juga kreativitas penjual kuliner ini patut diacungi jempol. Tren es bakar ini membuktikan bahwa dalam dunia kuliner, terobosan bisa datang dari hal yang tidak terduga.

Sekarang, mari kita beralih ke tren yang lebih ekstrem, tumis kerikil.

"Hahhh?!" mungkin itu reaksi pertama kamu, sama seperti saya.

Kerikil-kerikil ini tidak untuk dimakan, pastinya, tapi hanya untuk dihisap saja. Dimasak dengan ditambah bumbu seperti bawang putih, rosemary, cabai, dan daun perilla.

Konon sajian ini sudah ada berabad-abad lalu yang dimulai oleh para nelayan dari provinsi Hubei. Ketika mereka tidak berhasil menangkap ikan, mereka akan memasak kerikil dari sungai karena katanya rasanya seperti ikan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline