Lihat ke Halaman Asli

Ruliah

Membaca adalah aktifitas jiwa, mengisi setiap kekosongan

Jadikan Mereka Partner Bukan Bawahan

Diperbarui: 16 Desember 2021   23:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

sekolah selalu saya ibaratkan sebuah rumah, tak hanya sebatas tempat mengajar yang berisi guru dan murid, maupun sarana prasarana. Saya lebih senang menyebutnya sebagai rumah, tempat ada kenyamanan, keceriaan dan pengelolaan yang lebih humanis. 

Ada guru lain sekolah yang curhat, bahwa mengajar disekolah tidak betah dan ingin pindah sekolah. Kemudian ia menceritakan apa saja yang terjadi, kepada saya, ia mengungkapkan jika ia sebagai guru sering tak dianggap.

 Mendengar hal itu kemudian saya menelusuri lebih dalam. Sebenarnya di sekolahan itu hanya ada 1 guru dan 1 kepala. Kebetulan ia yang menjadi gurunya. Selanjutnya ia menjelaskan ketidaknyamannya karena  Kepala sekolah tempat ia mengajar tipikal orang yang tertutup dan tak mau berbagi maupun bertukar pikiran. 

Saat ada perubahan ia selalu tak dilibatkan, Kepala sekolahnya yang menentukan dan memutuskan sendiri. Saat ia mempunyai ide atau gagasan malah sering diabaikan dibilang ruwet dan tak mungkin di lakukan. Rupanya hal tersebut yang mendasari ketidaknyamanya di sekolahan tersebut.

Mendengar cerita tersebut sebenarnya saya kasihan, mungkin tak hanya satu bahkan banyak guru-guru yang merasa tak nyaman dan kerasan mengajar di sekolah yang kita pimpin. Bahwa mendidik ruang lingkupnya tak cukup pada peserta didik, kita sebagai kepala juga harus mampu mendidik guru-gurunya, memberikan kenyamana dan kebahagian. Sehingga guru akan secara total memberikan ilmunya pada murid-muridnya, bahkan sampai rela memberikan jiwanya untuk sekolah yang kita bina. 

Banyak pula sekolah yang maju, karena faktor menejerial, sebagaimana yang kita ketahui seorang kepala tak hanya sebagai penguasa, namun juga sebagai manajer di lingkungan sekolahnya. 

Kepala adalah pemimpin, pemimpin hendaknya sadar bahwa apa yang sedang ia jalankan adalah amanah, konsekuensinya adalah pertanggung jawaban, baik dihadapan guru maupun di hadapan Tuhan. 

Berbicara pemimpin sebenarnya dari setiap kita adalah pemimpin, pemimpin bagi diri sendiri. Menjadi pemimpin bukanlah suatu hal yang harus dibanggakan ataupun dijadikan alat untuk melakukan semuanya sesuai keinginan sendiri. Menjadi pemimpin berarti harus berjiwa besar, menerima perbedaan dan siap dikritik. 

Hal yang paling penting supaya dalam menejemen berjalan dengan baik adalah salah satunya melalui komunikasi. Komunikasi ini yang akan mempengaruhi sejauh mana keberhasilan dalam sebuah lembaga, jika komunikasinya lancar maka segala sesuatunya akan cepat dan mudah diatasi. Misalnya dalam sebuah lembaga, terdapat permasalahan yang harus segera diselesaikan, maka sebaiknya perlu mengkomunikasikan jalan keluarnya bersama. Tak perlu menanggung sendiri apa yang terjadi.

Komunikasi juga terkait erat dengan keterbukaan, makna terbuka yaitu kita selalu membuka diri untuk semua bentuk saran dan masukan. Kita perlu merubah cara pandang kita tentang suatu kemajuan, kemajuan terkadang berasal bukan dari diri kita, melainkan saran dan dukungan dari orang di sekitar kita. Sehingga jangan pernah menutup saran maupun pendapat dari patner kita. Saya lebih nyaman menyebut partner dari pada istilah atasan maupun bawahan

 Segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan dan perkembangan anak didik selalu saya bahas bersama patner di sekolah. Baru kemudian setelah ada pembahasan kita akan lebih mudah memutuskan langkah yang terbaik. Bahkan saya tak pernah segan meminta pendapat dari teman-teman guru, inovasi apa, atau keinginan apa yang ingin mereka wujudkan di sekolah. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline