"Gitar itu dijual, ya?" ia bertanya sambil menunjuk gitar merah yang berdiri tegak terpajang di sudut dekat lemari.
Toko Ayah memang khusus menjual peralatan musik.
"Iya. Memang kenapa? Lo bisa mainin gitar? " ucapku dengan antusias.
"Bisa sedikit-sedikit. Dulu pernah belajar."
"Boleh gue coba gitarnya?"
"Boleh. Silakan saja. Asal jangan tergores atau senar putus, ya. Soalnya ini barang jualan," jelasku.
"Tenang saja." Lelaki itu meraih gitar merah dari pajangan dan mulai memainkan instrumen tersebut dengan petikan seperti seorang profesional. Setelah puas, dia letakkan lagi di tempat semula. Oh Tuhan, petikan gitarnya membuat bulu kudukku merinding.
"Oiya, ada es batu?"
"Ada. Buat apa?" jawabku penasaran dengan permintaannya.
"Ini buat mengompres luka gue. Lumayan ngilu, nih," ujarnya sambil meringis, memegang sudut bibirnya yang mulai membiru.
"Oke. Tunggu sebentar, ya."