Lihat ke Halaman Asli

Rubeno Iksan

Mahasiswa Ilmu Sejarah S1 di Universitas Negeri Semarang

Ketika Guru Menjadi Tak Ada Harganya Lagi

Diperbarui: 28 September 2023   22:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi bullying di sekolah. (Foto: Mikhail Nilov via kompas.com)

Dunia pendidikan di Indonesia saat ini berada dalam zona merah. Jagat maya dihebohkan dengan kejadian-kejadian di luar nalar, misalnya ada kasus anak SD di Gresik yang dicolok matanya menggunakan tusuk bakso karena tidak mau memberi uangnya kepada si kakak kelasnya yang menginjak kelas 6 SD.

Hingga seorang guru di Demak yang dibacok muridnya sendiri hanya karena masalah sepele: nilai UTS-nya yang di bawah standar kelulusan (dapat dipastikan nilainya di bawah angka 60). 

Padahal, ketika dekade sebelumnya (80-90an), kasus ini terbilang langka. Mengingat pada masa itu, guru adalah seseorang yang harus dihormati meskipun gaji guru saat itu sangat rendah dibandingkan gaji karyawan swasta. 

Di masa Orde Baru, gaji guru hanya mencapai ratusan ribu. Jika dibandingkan dengan gaji guru di zaman sekarang, masih lebih beruntung gaji guru saat ini walaupun hanya guru yang sudah diangkat menjadi guru tetap yang dapat merasakan dampaknya. 

Yang menjadi pertanyaan yang akan dibahas tuntas dalam artikel ini: mengapa guru seolah-olah tidak ada harganya sama sekali sehingga guru ibarat sampah di mata anak muridnya dan tidak dianggap sebagai 'orang tua kedua di sekolah'? Mengapa justru para murid semakin beringas sampai-sampai punya niat jahat untuk membacok gurunya sendiri? 

Masalahnya terletak pada pembentukan karakter anak, perkembangan teknologi yang sedemikian masif, dan sistem pendidikan yang berorientasi pada nilai. 

Dalam pembentukan karakter anak, orang tua memegang peranan penting dalam menentukan arah dari si anak itu. 

Pola asuh orang tua juga memegang peranan dalam membentuk kepribadian anak. Apabila anak cenderung dikekang, anak akan tidak bisa berkembang dan tak mampu menggali potensinya lebih lanjut. 

Begitupula jika anak dibiarkan dan dimanja, justru hal ini juga akan mengakibatkan kurangnya penghargaan sang anak terhadap orang lain, termasuk gurunya sendiri. Gurunya malah dianggap seperti temannya sendiri yang 'halal' untuk di-bully dan menjadi sasaran pelampiasan muridnya sendiri. 

Apalagi, mereka hidup di zaman yang di mana, gempuran teknologi dan informasi semakin masif. Mereka semakin bergantung pada teknologi dalam berbagai aspek, termasuk dalam aspek pendidikan. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline