Di tengah tengah dampak perang dan inflasi yang menggila yang membuat perekonomian Inggris di era thaun 1920 an terpuruk, keputusasaan Howard Carter mencapai puncaknya ketika sponsor utamanya Lord Carnarvon menghentikan pendanaan membuat ambisi besar untuk menemukan sesauatu yang spektakuler di lembah para raja di Mesir terhenti sementara waktu.
Saat itu para arkeolog mempercayai bahwa hampir semua peninggalan mesir kuno sudah digali dan tidak akan mungkin ada penemuan lainnya.
Namun di tengah tengah kesulitan keuangan dan juga medan yang dihadapinya Howard Carter masih memiliki semangat yang menggelora dan percaya bahwa penemuan yang besar dan menguncang sejarah akan terjadi.
Betul saja pada tanggal 26 November 1922 Howard Carter akhirnya menemukan harta karun dan juga makam Firaun Tutankhamun yang dianggap sebagai salah satu penemuan arkeologi terbesar dalam sejarah.
Penemuan ini memang sangat luar biasa karena di luar batas imaginasi dan impian para arkeolog.
Ruang demi ruang ditemukan penuh dengan harta tak ternilai berupa emas dan permata dengan total sebanyak 5.400 benda benda antik tidak ternilai yang selama ini berhasil selamat dari para pejarah makam mesir kuno.
Howard Carter memang beruntung karena di ruang pertama sebenarnya ada jejak para pejarah makam kuno yang telah memasuki ruang tersebut sebelumnya, namun karena sesuatu yang tidak diketahui dengan pasti penyebabnya para penjarah ini tidak melanjutkan membongkar lebih dalam lagi sampai ke makam Tutankhamun.
Kontroversi
100 tahun telah berlalu sejak penemuan Howard Carter menguncang dunia, namun kontroversi dibalik penemuan ini masih saja mencuat.
Salah satu kontroversi yang terkuak sampai saat ini adalah terkait pertanyaan apakah Howard Carter merompok harta karun dan juga membajak popularitas Tutankhamun yang seharusnya menjadi milik orang Mesir.