Lihat ke Halaman Asli

Roy Soselisa

Sinau inggih punika Ndedonga

Lebih Berharga dari yang Berharga

Diperbarui: 19 April 2022   23:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Prigen, Kabupaten Pasuruan, 17 April 2022 (dokpri)

Kami tidak memiliki kerutinan untuk makan di luar rumah, karena menu masakan rumahan sudah tersedia setiap harinya di rumah. Namun, adakalanya kami memanjakan lidah dengan makan di luar rumah, dan menu yang sering menjadi santapan kami adalah bebek goreng.

Kami sudah menjajal beberapa tempat penjual bebek goreng yang terkenal di Kota Surabaya, dan dari sekian tempat yang sudah kami kunjungi, favorit kami jatuh pada sebuah warung sederhana yang tak jauh dari salah satu pasar bunga.

Dari tindakan kami menjajal beberapa tempat penjual bebek goreng ini, tanpa disadari buah hati kami pun jadi menggemari bebek goreng. Terbukti dalam beberapa kali kesempatan memanjakan lidah di luar rumah, kami memberikan penawaran kepada buah hati tentang menu yang akan dipilih, dan pilihan yang paling sering dipilih adalah bebek goreng.

Termasuk kemarin malam (18/4/2022), guna menebus permintaan buah hati semalam sebelumnya (17/4/2022) yang tak terpenuhi karena penjual bebek goreng tidak berjualan, saya pun mencoba menawarkan menu bebek goreng kepada buah hati, meski kami mengetahui dua jam sebelumnya sudah makan---tawaran saya cukup beralasan, buah hati kami mungkin mengalami kelelahan setelah liburan sederhana selama dua hari (sebagai pengganti kejutan yang tertunda: bit.ly/3OcxUPr), sehingga membutuhkan asupan nutrisi yang terkandung di dalam daging bebek yang berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu pemulihan terhadap jaringan tubuh yang rusak (selain secara rutin telah kami berikan minyak ikan, dengan salah satu tujuan yang serupa).

Tawaran yang saya berikan pun diterima dengan sigap oleh buah hati, dan kami bergegas menuju ke tempat favorit kami. Pada kesempatan kali ini tetap sama seperti sebelum-sebelumnya, dengan menu nasi bebek goreng yang dicampur serundeng, buah hati kami mampu menghabiskan makanannya sendiri dengan lahap menggunakan tangan---berbeda halnya dengan menu yang lain, membutuhkan usaha yang ekstra untuk menghabiskan makanannya.

Selanjutnya bagian yang paling menarik bagi kami dari momen kemarin malam ini (18/4/2022) yaitu terletak setelah buah hati selesai menghabiskan makanannya, istri membuat pernyataan serta mengajukan pertanyaan (sembari merapikan pakaian dan mengenakan jaket) kepada buah hati: "Luar biasa ya Relthan. Kalau Mama yang minta bebek, belum tentu akan dituruti sama Papa, tapi Relthan tanpa minta ke Papa sekalipun, malah diajak makan bebek. Itu semua dilakukan Papa karena apa, Nak?"

Jawaban yang diberikan oleh buah hati kami pun benar-benar di luar dugaan yang berkata seperti demikian: "Karena Relthan berharga dari yang berharga." Seketika itu pula kami berdua tertawa mendengar jawabannya, karena jawaban yang diberikan bukan pada umumnya, bahkan dengan pemilihan diksi yang tidak biasa---contoh jawaban pada umumnya dengan pemilihan diksi yang biasa: "Karena Papa sayang Relthan."

Dalam tawa kami pun merespons jawaban buah hati: "Oh, ini ungkapan Papa waktu di Kakek Bodo kemarin." Ya, sehari sebelumnya (17/4/2022) ketika kami hendak meninggalkan tempat wisata Air Terjun Kakek Bodo, istri sempat mengajukan protes dengan nada bercanda kepada saya: "Kok jadi Mama yang bawa semuanya (tas pinggang yang berisikan barang-barang berharga seperti dompet dan gawai kami berdua)?"---lokasi wisata Air Terjun Kakek Bodo berada tepat di depan penginapan kami, sehingga saat buah hati terbangun dari tidurnya, kami langsung mengajaknya berjalan kaki dari penginapan menuju air terjun Kakek Bodo, dengan membawa bekal untuk sarapan berupa roti dan susu kotak yang telah kami beli semalam sebelumnya (16/4/2022).

Saya pun secara spontan memberikan jawaban kepada istri sembari menggandeng tangan mungil buah hati kami: "Papa ini membawa yang jauh lebih berharga dari yang berharga, Ma." Seketika buah hati tertawa riang mendengar jawaban ini, tampak seperti sedang tersanjung, dan mencoba mengulang jawaban spontan Papanya untuk menegaskan kembali kepada Mamanya.

Ternyata tanpa kami sadari, perkataan yang secara spontan keluar dari mulut dalam momen kebersamaan kami dapat direkam dengan baik oleh buah hati. Terbukti setelah sehari momen kebersamaan berlalu, buah hati kami dapat menduplikasi jawaban spontan yang telah dilontarkan oleh Papanya. Bahkan, saat menjelang paragraf akhir dari catatan sederhana ini ditulis (setelah dua hari berlalu masih tetap terekam dalam ingatan dan tersimpan dalam hatinya), buah hati kami datang menghampiri dengan diawali kalimat sapaan: "Papa, I Am Precious."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline