Lihat ke Halaman Asli

Ini Yang Anak-anak Perlukan dari Orang Tua Mereka

Diperbarui: 30 Maret 2017   08:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

http://www.harlotofthearts.org/index.php/harlot/article/view/85/65

Belum lama ini, saya sempat bertemu dan makan siang bersama dengan seorang sahabat. Sembari menikmati makan siang yang lezat, kami menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang mengenai banyak hal, mulai dari pekerjaan, keluarga, hingga kehidupan dunia anak-anak masa kini yang penuh dengan hingar-bingarnya teknologi. 

Memang tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi membawa banyak kemudahan di berbagai bidang kehidupan, termasuk dapat menunjang kemajuan pendidikan anak, jika dikembangkan dengan benar. 

Namun jika ditinjau kembali dengan seksama, bisa mulai pahami bahwa perkembangan dunia teknologi yang sangat cepat, juga membawa dampak bagi perkembangan anak. Secara spesifik jika membahas maraknya penggunaan gawai pada anak di usia dini 

Dengan kata lain, anak-anak yang hidup di generasi sekarang ini, sedikit banyak dikondisikan sebagai korban dari teknologi. Ironisnya justru oleh orang tua mereka sendiri. Maksudnya korban? Ya, korban teknologi dari aspek pola perkembangan anak, baik secara fisik maupun secara psikis.

Mungkin Anda mulai berpikir apa relevansinya, tidak apa, karena hal inilah yang akan kita bahas lebih jauh setelah ini.

Belum lama ini, saya pernah membaca sebuah artikel, yang membeberkan tentang hasil observasi terhadap anak-anak yang intensitas keakraban dengan gawai cukup tinggi dalam masa pertumbuhannya, sejak usia dini. Dikatakan bahwa sebagian besar dari populasi anak-anak tersebut, secara konsisten, mengalami gangguan perkembangan terhadap kemampuan motoris dan/ atau kinestetisnya. 

Selain artikel diatas, saya juga pernah membaca tentang sebuah survey yang menunjukkan bahwa anak-anak pada generasi sekarang ini, secara mayoritas mulai memerlukan bantuan kacamata lebih awal dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Hal ini karena dampak dari cahaya layar gawai pada mata anak-anak. 

Dari perspektif teknologi pikiran, penggunaan gawai yang intensif juga mempengaruhi Pikiran Bawah Sadar (PBS), dimana anak-anak generasi sekarang pada umumnya mempunyai kecenderungan perilaku yang maunya serba instan. Kok bisa ya? Tentu bisa, hal ini disebabkan karena anak-anak dapat melakukan apapun melalui gawai dengan mudah dan cepat. 

Penjelasan dari sisi neurosain dan medis dapat ditinjau dalam hubungannya faktor hormon. Hormon endorphin adalah hormon yang dihasilkan ketika manusia mengalami perasaan bahagia, oleh sebab itu hormon ini juga sering disebut sebagai hormon kebahagiaan. Dalam hubungannya dengan gawai, hormon ini terlalu sering dihasilkan bersamaan dengan perasaan senang (/bahagia) saat anak-anak memenangkan permainan (/games) dalam gawai dengan begitu mudahnya.

Kombinasi dari kedua hal inilah yang kemudian memicu anak menganggap semua hal mudah dan cepat, dan terciptalah generasi instan seperti saya sebut diatas. 

Saya tidak akan berbicara lebih jauh lagi mengenai hal ini, namun jika Anda jeli dan konsisten mengamati fenomena ini, Anda akan semakin mudah menemukan banyak lagi simtom/ gejala serupa sehubungan dampak gawai pada anak. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline