Lihat ke Halaman Asli

Kicau Betis Muda yang Berakhir Tragis

Diperbarui: 8 September 2015   12:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

by. rollytoreh

Awalnya enggan bersebelahan, sebab tanganmu terus mengurut bagian selangkangan. 

Aku tatap, muka mu jatuh ke lantai. Bergidik tahu mengapa ku pegang tangan. Dan kau menolak ku pegang.

Kemudian ku lekatkan bibir membingkai kuping kecilmu, hendak cerita mengapa harus ringkih pada cadas batu yang biasa di gagahi anak muda sampai larut malam? 

Kau pasrah, tak cakap menjawab.

Lama-lama bibir pucatmu komat kamit menggamit lancang, lahap mencarut kacang, tangan gatal melenggang, memilih cacian pada gerombolan pemuda yang tunggang langgang tinggal cawat melekat di malam pekat, karena aparat berhasil menjebak adegan paksa mencincang kehormatan.

"Kau tahu, teriak dan caci maki ini tak mungkin memangkas najis gerombolan. Aku tak percaya penjara mencetak sadar. Penjara itu cengeng dan kita dipaksa tercengang. Penjara itu rawan bagi perawan manusia yang mengerti kebenaran. Dan banyak orang tidak bersalah terdampar disana. Diseret dengan mata terbungkus, enaknya cuma mendengus, sementara penjahat berkeliaran, berdampingan, di samping singgasana kekuasaan, atau angkatan kejahatan. Derajat penjara tak sebanding habisnya perawan oleh derasnya nafsu gerombolan." Katanya.

Penjara terlalu murah pada wanita yang habis oleh desah.

Mendidih darah melebihi dosis tercurah dengan watak norma yang cedera.

Ejakulasi telah mengeksekusi kehormatan diri, dan dia tidak perlu menunggu fatwa bagaimana menghabisi gerombolan pemuda.

"Menghabisi mereka gampang:

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline