Lihat ke Halaman Asli

Choirul Huda

TERVERIFIKASI

Kompasianer sejak 2010

Nangkring Bareng Newmont: Menepis Stigma Negatif Pertambangan

Diperbarui: 24 Juni 2015   04:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

1385797086319078661

[caption id="attachment_281148" align="aligncenter" width="491" caption="Suasana Nangkring Bareng Newmont di Pisa Cafe. (www.kompasiana.com/roelly87)"][/caption]

*       *       *

Mendengar kata "Pertambangan", pikiran kita langsung mengarah kepada berita mengenai pencemaran limbah, isu lingkungan, dan sebagainya. Terutama yang menyangkut perusahaan tambang PT Newmont Nusa Tenggara (PT Newmont) yang beberapa tahun lalu ramai diperbincangkan. Ingatan kita langsung menerawang pada kasus yang pada dekade 2000-an cukup heboh: Kesenjangan sosial antaran pekerja dan masyarakat sekitar di Nusa Tenggara Barat (NTB) serta divestasi saham. Berita tersebut memang tidak salah. Sebab, sudah bukan rahasia umum lagi kalau PT Newmont yang memproduksi konsentrat dari tambang batu hijau seperti tembaga dan emas pernah berseteru dengan pemerintah. Hanya, sebagai blogger yang menjadi bagian dari masyarakat, kita tidak boleh menelan mentah-mentah begitu saja. Setidaknya, harus dipilah dan dipilih, mana yang memang benar dan juga salah. Sebab, bisa saja suatu berita yang merebak dipelintir hingga menyudutkan pihak tertentu, dalam hal ini PT Newmont. Nah, kebetulan siang tadi, Sabtu (30/11) di Pisa Cafe, Jakarta Selatan, saya dan 74 Kompasianer turut menghadiri diskusi yang mengupas habis mengenai dunia pertambangan secara lebih dekat. Acara yang bertajuk Nangkring Bareng Newmont ini dipandu salah satu admin Kompasiana, Iskandar Zulkarnaen dengan menghadirkan tiga pembicara yang kompeten di bidangnya: Ketua Indonesia Mining Association - Asosiasi Pertambangan Indonesia (API-IMA), Syahrir Abubakar, Juru Bicara PT Newmont, Rubi Purnomo, dan perwakilan dari Kompas.com, Heru Margianto. Dalam perbincangan dengan ketiga narasumber tersebut, tentu berbeda persepsi. Lantaran masing-masing mewakili tiga institusi berbeda. Ada yang berasal dari asosiasi pertambangan sebagai mediator antara perusahaan tambang dengan pemerintah, yaitu Syahrir, dari PT Newmont itu sendiri (Rubi), dan juga perwakilan dari media (Heru). Meski begitu, kesimpulan yang saya dan Kompasianer lain dapatkan dapatkan dari merek bertiga, sama. Yaitu, intinya tidak semua perusahaan tambang yang beroperasi di Indonesia berprilaku negatif. Itu seperti diungkapkan Syahrir, yang menilai dari 10.642 perizinan tambang (dahsyat!) yang aktif teregistrasi di API-IMA hanya 47, dengan PT Newmont termasuk salah satunya. Nah, lainnya yang tak terdaftar itu terkadang tidak bisa dikontrol oleh API-IMA, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), atau bahkan Pemerintah. Jadi, tak jarang bila banyak dari mereka itu yang selama ini beroperasi dengan ilegal hingga mencoreng aktifitas yang dilakukan perusahaan tambang resmi. Syahrir yang dalam diskusi itu tampak antusias memaparkan tugas dan fungsi API-IMA di hadapan puluhan Kompasianer itu menjabarkan. Bahwa, akibat ulah mereka yang tak terkontrol hingga mencemarkan lingkungan menjadi stigma buruk masyarakat terhadap semua perusahaan tambang. Sementara, apa yang dikemukakan Rubi berbeda. Sosok yang selalu menebar senyum ini mengakui, sebagai perwakilan dari PT Newmont, tentu dianggap akan membicarakan perusahaannya dari sisi positif saja. Namun, Rubi juga menjelaskan bahwa perusahaannya berusaha untuk patuh terhadap regulasi yang ditetapkan pemerintah. Salah satunya dengan melakukan penghijauan dan pengembalian lahan seusai "digarap" dalam jangka waktu tertentu. Itu dilakukan sebagai bukti bahwa PT Newmont berkomitmen terhadap lingkungan sekitar dan peduli dengan penduduk setempat yang selama ini banyak berkontribusi. Contohnya, provinsi Nusa Tenggara Barat yang sebagian besar pendapatannya berasal dari pajak yang dihasilkan PT Newmont. Di sisi lain, Heru yang seorang jurnalis, tentu membicarakan hubungan tambang dengan masyarakat dari sudut pandang media. Terutama bagaimana kekayaan alam bisa dimanfaatkan langsung pengelolaannya untuk kesejahteraan rakyat. Bukan sekadar masuk ke kas pribadi penguasa setempat. Maklum, selama ini banyak kejadian di suatu daerah yang kaya akan mineral, namun penduduknya justru terbelakang. Atau, dengan kata lain sangat ironis. Sementara, pejabat di daerah itu malah bertabur kemewahan. Itulah kesimpulan yang saya dapat usai menghadiri #NangkringNewmont. Meski belum memahami betul, kegiatan operasional di tambang mereka seperti apa, tapi setelah mendengar penuturan dari ketiga narasumber itu, sedikitnya menjadi mengerti. Apalagi, rencananya PT Newmont akan mengajak beberapa Kompasianer untuk menyaksikan langsung kegiatan di tambang mereka, atau Bootcamp pada Februari mendatang. Ya, tidak semua perusahaan pertambangan itu berdampak negatif pada lingkungan. Toh, sebagian besar barang sehari-hari yang kita digunakan seperti ponsel, komputer, dan gadget lainnya, sudah pasti berasal dari hasil tambang. Jadi, mengenai banyaknya berita negatif itu, kembali berpulang pada diri kita sendiri.

*       *       *

[caption id="attachment_281149" align="aligncenter" width="491" caption="Diskusi dipimpin Admin Kompasiana, Iskandar Zulkarnaen (sebelah kiri), Heru, Syahrir, dan Heru"]

1385797176397060168

[/caption]

*       *       *

[caption id="attachment_281150" align="aligncenter" width="491" caption="Salah satu peserta Bootcamp, menceritakan pengalamannya selama di tambang Newmont"]

13857972421374447189

[/caption]

*       *       *

[caption id="attachment_281170" align="aligncenter" width="491" caption="Sesi tanya jawab mengenai dunia tambang dari Kompasianer untuk Kompasianer"]

13858030311027506970

[/caption]

*       *       *

[caption id="attachment_281151" align="aligncenter" width="491" caption="Diskusi rencana Nangkring Bareng Newmont selanjutnya di beberapa kota di Indonesia bersama perwakilan Kompasiana, Newmont, dan Kompasianer"]

13857972982035430915

[/caption]
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline