Lihat ke Halaman Asli

Choirul Huda

TERVERIFIKASI

Kompasianer sejak 2010

Looking For Eric, Sisi Lain Eric Cantona

Diperbarui: 24 Juni 2015   20:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

13544291772071720425

Nama besar Eric Cantona, mantan gelandang timnas Prancis yang bermain di klub raksasa Inggris, Manchester United (MU), memikat semua penggemarnya. Tidak terkecuali, bagi seorang tukang pos yang juga bernama Eric dalam film Looking for Eric. Eric yang merupakan tipikal seorang Ayah yang sayang pada keluarga, harus mengalami pil pahit dalam kegagalan rumah tangga. Terlebih saat Eric mengetahui putranya, Ryan terlibat dalam pencurian sebuah senjata api, dengan geng narkoba. Tak pelak, masalah itu membuat kehidupan Eric yang sudah sulit semakin runyam. Apalagi, ditambah semakin renggang hubungan dengan mantan Istrinya, Lily. Menjadikan kisah hidup Eric seperti labirin yang sulit untuk menemukan jalan keluar. Meski begitu, Eric menyadari bahwa kehidupan yang maha sulit ini, harus bisa dilalui. Terlebih, karena ia sendiri mempunyai seorang idola, yang mampu bangkit dari keterpurukan di dunia sepak bola. Ya, Eric sangat mengidolai sosok Cantona, pemain MU yang dijuluki sebagai "Sang Kaisar". Sebab, Cantona berhasil melewati momen sulitnya, usai diskorsing saat melakukan tendangan kungfu ke penggemar klub Crystal Palace, di Stadion Selhurst Park, 25 Januari 1995. Alhasil, dengan dukungan dari sang legenda yang tiba-tiba "masuk" ke dalam rumahnya, membuat Eric sadar. Bahwa apa yang dihadapinya ternyata masih belum parah dibanding kehidupan Cantona sendiri atau pemain sepak bola lainnya.

*      *      *

Menyaksikan Looking for Eric, di Goethe Institut, jalan Sam Ratulangi, Jakarta Pusat, Sabtu, 1 Desember 2012, menambah kesan tersendiri bagi saya, yang merupakan penggemar klub berjuluk "Setan Merah" tersebut. Bersama belasan Kompasianer lainnya, yang menghadiri undangan Admin Kompasiana yang bekerja sama dengan pihak Europe On Screen 2012, untuk pertama kalinya saya bisa menyaksikan secara utuh film yang dirilis tahun 2009 ini. Tampak, wajah-wajah familiar seperti Ratu Balap Ibu Yayat, Raja Kopdar Babeh Helmi, dan maniak film Dearmarintan, serta belasan Kompasianer lainnya sangat antusias. Termasuk Ibu Rokhmah, yang sebelum datang ke Goethe, sudah menghadiri tiga acara di Get Urbanized dan Asean Blogger. Padahal, rumah beliau lumayan jauh, di kawasan selatan Jakarta. Bahkan, Dearmarintan, sosok penggagas KOMIK (Kompasianers Only Movie enthus(i)ast Klub) sebuah grup di jejaring sosial Facebook tersebut, terbuka untuk Kompasianer yang hobi film, sudah tiga kali datang ke Goethe, demi menyaksikan film-film apik Eropa. Looking for Eric sendiri, merupakan film pamungkas yang diadakan Europe On Screen 2012, dari 25 November hingga 1 Desember. Sementara, bagi saya nonbar ini merupakan yang keempat kalinya bersama Kompasianer, setelah dua kali menyaksikan gratis film "Negeri Lima Menara" dan "Republik Twitter".

*      *      *

[caption id="attachment_212433" align="aligncenter" width="491" caption="Festival film Eropa di Goethe Institut, Sabtu 25 November - 1 Desember 2012"]

13544260941332840321

[/caption]

*      *      *

[caption id="attachment_212434" align="aligncenter" width="491" caption="Dialog "]

13544261931256254575

[/caption]

*      *      *

[caption id="attachment_212435" align="aligncenter" width="491" caption="Nonbar sekaligus Kopdar dengan Kompasianer sejak Kompasianival lalu"]

1354426277948383678

[/caption]

*      *      *

[caption id="attachment_212436" align="aligncenter" width="491" caption="Tetap semangat meski sebelumnya juga menghadiri acara Get Urbanized dan Asean Blogger"]

1354426358846660884

[/caption]
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline