Lihat ke Halaman Asli

Riza Zulmi Nur Amalia

thinking bigger

Pendidikan Al Quran Metode Qira'ati di TPQ dalam Perspektif Filsafat Pendidikan

Diperbarui: 29 Desember 2021   07:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Al-Qur'an kitab suci umat Islam (Sumber: www.madaninews.id)

Kitab suci berbahasa Arab yang diturunkan Allah SWT kepada seorang Nabi, yang bernama Muhammad SAW adalah Al-Qur'an. Diturunkannya Al-Qur'an tidak hanya semata-mata untuk Nabi sendiri, melainkan juga untuk memperingatkan kaumnya.

Bagi umat islam di Indonesia, Al-Qur'an dengan bahasa Arabnya memiliki keistimewaan tersendiri, hal itu disebabkan untuk dapat membacanya, masyarakat muslim di Indonesia harus belajar dan mengenal huruf-huruf hijaiyah terlebih dahulu. 

Maka dari itu, perwujudan dari usaha untuk memberantas buta huruf Al-Qur'an serta menjauhkan dari keterbelakangan dan kebodohan ialah didirikannya program-program pendidikan untuk memberikan kemampuan membaca Al-Qur'an bagi umat muslim di Indonesia. Banyak kita temukan bermacam-macam metode belajar Al-Qur'an, di Indonesia ini, salah satunya metode Qira'ati.

Metode Qira'ati  ialah metode yang menekankan pada pendekatan keterampilan proses membaca secara cepat dan tepat, baik dari segi tajwid maupun segi makhorijul hurufnya. 

Sehingga akan diperoleh hasil pengajaran yang efektif tahan lama dan dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi kemampuan anak didik. 

Untuk mengajar metode Qira'ati ini tidak semua orang dapat mengajar, pendidik yang mengajar Qira'ati ialah seorang yang profesional, dalam artian sah di training terlebih dahulu dan di tashih (tes), lalu setelah lulus tes, harus mengikuti metodologi yakni cara penyampaian pengajaran di kelas, setelah itu ada praktek mengajar, dan baru bisa mendapatkan syahadah (ijazah) dan baru bisa mengajar.

Metode ini terdapat petunjuk membaca pada setiap jilidnya sehingga para siswa yang aktif dalam membaca sedangkan ustadz/ustadzah hanya membimbing dan membenarkan bacaan yang salah. 

Saat implementasi metode ini siswa yang lebih banyak aktif sehingga akan selalu ingat dengan apa yang dipelajarinya karena para ustadz/ustadzah-nya tidak memindahkan halaman sebelum siswa itu benar-benar bisa membaca dengan makhroj yang baik dan benar. (Nunung; 2020:3)

Jika anak didik akan naik jilid, harus di-teskan terlebih dahulu (penentuan layak atau tidak untuk dinaikkan). Untuk alokasi waktunya, 1 jam 15 menit dalam satu hari. 

15 menit pertama anak-anak berbaris di luar kelas, membaca do'a, membaca surah-surah pendek, membaca bacaan sholat, dan lain-lain. Lalu 1 jam-nya di dalam kelas, 15 menit peraga, 30 menit anak maju secara bergantian (individual), 15 menit akhir membaca peraga lagi sebelum pulang. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline