Lihat ke Halaman Asli

RIVO BILANG

MARKETING

Si Bapak Pemarah

Diperbarui: 13 Juli 2022   06:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Berlari-lari kau ke hulu, merangkak-rangkak kau ke hilir
Larut dalam jingga, tenggelam dalam hitam
Sesampai kau di tempat berlindung, bukan hilang penat yang kau rasa, malah gemuruh yang kau terima

Terisak kau tak terima, mengutuk kau pada si bantal
"Malang nian nasibku, sudahlah penat, perutpun lapar, dasar Bapak tukang marah"

Malam kian larut, masih saja kau kalut, si otak berperang dengan si perut
"Ah sudahlah, paling Bapak sudah tidur"

Melangkah kau hati-hati, menuju tudung idaman hati, hingga mata tak hati-hati, tersungkur kau lalu terkena belati, darah mengucur tiada henti, tangis kau menjadi-jadi
Hingga si pemilik marah hari ini, terkejut pucat pasi, lalu menggendong mu berlari meski tanpa alas kaki, berharap segera bertemu bapak mentari

Sakit yang kau rasa berganti haru, hingga terisak kau dalam hati, berdialog kau dengan diri
"Begitu berdosakah aku Tuhan? Hingga kau tunjukkan kepadaku betapa besar cintanya untukku?"

(Jakarta, 13 Juli 2022)

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline